K-On Ritsu Tainaka

Welcome

Semoga semua informasi yang saya berikan, bisa bermanfaat untuk kita bersama...

Ganbatte ne~

Let's be Honest!

Jumat, 02 Maret 2012


moshi-moshi,  Hana kali ini mempublish beberapa episode cerita yang didedikasikan untuk sebuah grup di facebook, yaitu Anime World School.
Pemeran-pemeran yang terdapat dalam kisah ini, adalah nick name dari para anggota grup. Dan cerita ini dibuat oleh saya, dengan nick name 'Hana' disini.
Termasuk kisah dan alurnya, semua request dari para anggota grup. Dan apabila kisah ini akan anda pakai, harap cantumkan situs ini. Terima kasih, dan selamat membaca..
.
~*Hana-chan Proudly Presents*~
~*A Random Anime Fanfiction*~
~*Side Story: Let's be Honest!  by Hana-chan*~
~*Rated: T semi M <gore and slight lemon!>*~
~*Genre(s): Adventure, Drama, Fantasy, Friendship, Humor, (slight) Horror, Hurt/Comfort, Mystery, Parody, Romance, Spiritual, Supernatural, Tragedy*~
~*warning! Gaje, abal-abal, typo bertebaran layaknya bintang di langit (?), isinya campur-campur kaya gado-gado (?), OOC sangat, OC, slight yaoi and yuri*~
.
~kamar Hana~pkl. 04.00~
Hana masih tertidur dengan lelap di kamarnya. Mumpung hari Minggu, tak ada salahnya juga untuk tidur sampai siang bukan? Normalnya, jam segini dia harus sudah bangun, karena Hiruma pasti menyuruhnya ikut berlatih amefuto. Tapi sampai selama ini, masih belum ada panggilan apapun dari Hiruma, jadi sepertinya untuk hari ini tak ada latihan. Ah, Hiruma baik juga rupanya...
“Ibu... dia itu gendut ibu... aku tak suka dia.. hoaamm.. nyam nyam...” Hana nampak mengigau dengan nyenyaknya. Bahkan sempat keluar air liur di pinggiran bibir mungilnya. *author muntah*
...
...
Hana masih tertidur lelap. Sangaaaat lelap. Hingga—
BRAK!
—suara super menjengkelkan dan mengagetkan datang dari arah pintu, dan membuat Hana otomatis membuka matanya. (tak lupa mengelap liurnya juga)
“Nggh..” Hana menggosok-gosok matanya.
“Bangun, Manajer Pemalas!! Kita harus latihan sekarang juga!! Kuhubungi ponsel sialanmu berkali-kali, tapi tidak aktif! Harusnya kau stand by dengan ponsel sialanmu itu!!”
“A-apa?!” Hana teringat ponselnya mati. Dan belum di cas lagi hingga pagi ini. “Oh iya, baterainya belum kuisi lagi.. hahaha...haha..ha...”
“Diam!! Jangan banyak tertawa kau! Sebagai hukumannya, kau harus sit up 20 kali di lapangan sekarang!!”
“Tapi, aku belum mandi!”
“Lupakan mandi sialanmu! Salah sendiri bangun telat 5 menit! Cepat ke lapangan!!”
DRRRT DRRRT
“Hiyaa!! Iya, iya Hiruma!!” maka Hana lari pontang panting menuju lapangan amefuto.
“Tch...” Hiruma hanya berdecih dan beranjak dari kamar Hana menuju lapangan amefuto juga.
~lapangan amefuto~pkl. 04.45~
“15....16....17....18...19...”
“Lebih cepat lagi, tinggal satu lagi Manajer Sialan!”
“Hufft...” Hana terus berusaha membangkitkan tubuhnya.
“Hmm...”
“Dua....puuu...”
“Hehe...”
“Luuuh!!”
BRAK
Hana pun terkapar dengan naasnya diatas tanah. Belum makan apapun, dan bahkan masih dalam keadaan mengantuk, tiba-tiba harus olahraga. Pasti cepat lelah.
“Lemah kau, Manajer Sialan.. 20 kali sit up saja sudah lelah..”
“Aku kan perempuan, wajar dong.. lagipula, aku belum makan apapun, dan aku juga masih ngantuk...”
“Alasan saja kau.. cepat bereskan ruang klub sialan kita!”
“I-iya iya!” maka Hana bergegas mengambil peralatan bersih-bersihnya, dan ia pun mulai membersihkan ruang klub.
Hiruma hanya memperhatikan Hana yang pergi berlalu dari pandangannya dengan ekspresi datar.
~lapangan amefuto~pkl. 15.30~
Hana masih asyik di ruang klub untuk membersihkan ruangan yang tak begitu luas tersebut.
Sedangkan Hiruma, sedang memberi komando pada anggota tim lain untuk strategi, dan pola penyerangan lawan lainnya.
Namun tak lama, Hiruma semakin merasa risih. Ia menyadari, seseorang memperhatikannya tak jauh dari balik gedung AWS.
“Kalian semua, lari 100 keliling! Aku ada urusan sebentar..” maka Hiruma pergi meninggalkan lapangan, sambil terus mengunyah permen karetnya, dan tetap memperhatikan anggota lain yang tengah berlari.
Saat Hiruma sampai di pinggir gedung...
“Keluar kau...” sahutnya.
Maka orang yang sedari tadi memperhatikan Hiruma, keluar dari tempat persembunyiannya.
Oh, ternyata...
“Anak kepsek sialan rupanya...” Hiruma mengeluarkan seringai andalannya.
Seiji tetap memasang muka masam.
“Ada apa kau memperhatikan jalannya latihan tim ku? Kalau kau berminta bergabung, maka kau sudah terlambat..”
“Aku tak pernah berniat masuk ke dalam tim mu..” ucap Seiji datar.
“Lalu? Apa urusanmu disini? Menunggu si Manajer Sialan itu?”
“Tidak juga...”
“Bukan normalnya, seorang laki-laki bangun pagi buta hanya untuk melihat latihan klub amefuto...”
“Aku berbeda dari laki-laki yang lain... lagipula, aku anak kepala sekolah, jadi wajar saja kalau aku ikut membantu ayahku dalam melihat kondisi semua klub yang ada di AWS kan?”
“Tch, pintar sekali mencari alasan kau..”
“Sebenarnya...”
“Ng?”
“Ada yang ingin kubicarakan denganmu.. sudah lama sekali, aku ingin membicarakan hal ini..”
“Soal apa?”
“Hana...”
~ruang klub amefuto~
“Hiruma bodooooh! Aku benci dia! Aku benci benci benci benci!! Iih, kenapa si setan itu harus merangkap jadi kapten tim amefuto sih?! Jadinya aku terus yang kena getahnya! Huuuh! Sudah cape sit up, sekarang ditambah lagi dengan  membersihkan ruang klub! Dia pikir aku ini pembantu nya apa?! Atau jangan-jangan.. dia berniat menjadikan aku... pembantu pribadinya?! Huh, bagus! Dia itu memang—tunggu... pembantu.. pribadi...?”
BLUSHED!
“T-t-t-tidak! Haha, itu tak mungkin terjadi bukan? Hahaha....haha...ha...”
CKLEK
“Hana?”
“Eh?” seorang laki-laki dengan perawakan tinggi, terlihat beberapa otot terbangun dengan indah di setiap lekuk tubuhnya, datang masuk ke ruang klub sambil membuka helm amefutonya.
“Tobi?” sahut Hana. “Kau tidak lari?”
“Aku sudah selesai.. lagipula, berlari 100 keliling saja sih masih belum apa-apa buatku.. hahaha...”
“Begitu.. perlu kuambilkan minum?”
“Ah, boleh boleh....”
“Baik, tunggu sebentar ya...”
Tobi beranjak duduk di sofa, dan tak lama kemudian, ia menerima sebotol minuman dingin dari Hana. “Terima kasih ya...”
“Tak masalah...” Hana membalasnya dengan senyum, lalu kembali menyapu ruangan.
”Fuah, segarnya...” nampaknya, Tobi sudah selesai minum. Tak lama kemudian, ia hanya memperhatikan Hana yang tengah menyapu.
Hana sweatdrop dengan sukses. “Ada apa?”
“Tidak ada... hanya saja, kenapa kau mau maunya disuruh-suruh oleh si kapten setan itu? Padahal kan wanita sepertimu tak pantas dipekerjakan terlalu keras! Apalagi tadi kau habis sit up, malah disuruh beres-beres sekarang! Aku berani taruhan, kau pasti belum makan dan istirahat yang cukup kan? Selain itu, bahaya juga! Bukannya sehat, tapi kau malah sakit! Kalau kau sakit, siapa yang akan mengurus tim saat kelelahan sepertiku? Dan bagaimana kalau—“
“Tobi! Cukup...”
“Oh, maaf.. kebiasaan cerewetku kumat.. hahaha..”
“Haha, tak apa...”
“Jadi.. err.. kenapa?”
“Yah, untuk suatu alasan khusus.. yang aku tak bisa beritahukan padamu... hehe..”
“Apa jangan-jangan.. karena ia pacarmu?!”
“A-apa?!”
“Iya kan, dia pacarmu?! Mengaku saja! aku yakin, kau dan dia ada hubungan khusus! Yang namanya cinta lokasi itu wajar saja, Hana... dan bahkan jika kau butuh bantuan, aku akan dengan sukarela membantumu... dan juga—“
“Tobi! Cukup! Aku tak ada hubungan apa-apa dengan Hiruma!”
“Err.. baiklah..”
TAP TAP TAP
“Apa yang kau lakukan disini cerewet sialan?! Cepat keluar, lanjutkan larimu!! Kau pikir aku tak menghitung apa, hah?!” perempatan nampak muncul di kepala Hiruma.
“Iya..iya...” Tobi beranjak berdiri. “Ssst! Hana!”
Hana menoleh.
“Jangan lupa, konsultasi saja padaku ya?” maka Tobi pun berlalu.
Hana sweatdrop dengan sukses. ‘Aku tak akan pernah mau meminta bantuan pada si cerewet itu..’ batin Hana.
Tak lama kemudian, Hiruma menoleh ke arah Hana dengan tajam. Hana kaget, dan tersadar ada aura mencekam di sekitarnya. “B-baiklah Hiruma! Aku kembali membersihkan klub ini!!” maka Hana mengambil kembali beberapa alat kebersihan yang mungkin akan ia butuhkan. Hiruma hanya diam, dan ia langsung kembali ke lapangan amefuto untuk melanjutkan latihan.
*seusai latihan....*
~lapangan amefuto~pkl. 08.00~
Terlihat Hiruma dan Hana masih sibuk membicarakan latihan tadi.
“Sebaiknya segera kau buat laporan padaku nanti tentang hasil latihan tadi, Manajer Sialan!”
“Iya, iya! Berisik!”
Hana pun mulai membereskan buku-buku dan kertas-kertasnya. Dan  ia pun beranjak ke kamar asrama.
*sore harinya...*
~gerbang AWS~
“Hah? Jadi... selama ini kau iri padaku?” Puti nampak merespon dari hasil pembicaraan dia, Hana, Inglid, dan Mizu.
“I-iya.. bukan iri sih.. aku hanya merasa tak dianggap saja... belakangan ini semua anggota penyihir rahasia selalu meminta dan mengandalkan bantuan darimu.. maka dari itu, aku merasa sedikit kesal karena aku seperti tidak dianggap.. tapi.. haha, tapi itu hanya perasaan sekilas, tak usah ditanggapi terlalu serius! Hahahaha!”
“Sudah kuduga, pasti memang ada sesuatu yang terjadi padamu Hana..” pikir Inglid cemas.
“Tapi, sepertinya ada satu hal yang agak disudutkan disini..” pikir Mizu serius.
“Maksudmu?” Hana nampak bingung.
“Begini..” Mizu menjelaskan. “Sepertinya ada hal lain yang membebanimu, selain dampak dari betapa bergunanya Puti disini... apa... ada hubungannya dengan Seiji?”
BLUSHED
“A-apa?! Seiji? Ti-tidak, tidak ada hubungannya! Kita disini membahas seluruh anggota, bukan hanya Seiji!”
“Ah..hahaha... memang sudah dapat terlukis jelas di wajahmu Hana.. kau... menyukai.. Seiji... benarkan?”
“Ti-tidak Mizu, kenapa kau berpikiran begitu?! Aku—“
“Hoo... jadi ini alasan kenapa Seiji memutuskanku? Dia lebih memihak padamu ya? Atau kau mungkin.. menghasutnya?” raut wajah Puti tiba-tiba berubah.
“Put, jangan bahas masalah itu lagi.. disaat seperti ini—“
“Justru ini adalah saat yang tepat, Inglid! Ayo, mengaku saja! dasar wanita perebut pacar orang lain! Memangnya tak ada lagi apa yang bisa kau pacari selain Seiji? Mentang-mentang dia dekat denganmu..”
“Put—“
“Diam Mizu! Aku hanya memperingatkan, jangan sampai Fuji juga terhasut oleh tampang sok manisnya ini!”
Hana hanya diam menunduk, lalu tak lama kemudian, dia lari ke atap sekolah. Tempat biasa ia menenangkan dirinya.
~atap sekolah~
Normalnya, saat melihat matahari terbenam, seorang wanita akan merasa sangat tenang. Tapi tidak untuk Hana. Dia merasa bersalah, dan dia juga terus menerus menangis. Dia mengira Mizu dan Inglid akan mengikutinya, mengejarnya hingga kesini seperti biasa.
Tapi tidak untuk kali ini.
“Aku...aku memang bodoh...”
Hana mulai bergumam. Ia duduk diatas lantai atap sekolah, lalu menenggelamkan kedua wajahnya sambil menekuk lutut.
“Baka... kenapa aku begitu bodoh? jelas semua orang sekarang sudah tak akan pernah menganggapku lagi... untuk apa aku terus menerus mencoba mencari perhatian? Hana, kau memang bodoh.. bahkan sepertinya dari awal, aku memang tak pantas masuk ke dalam sekolah ini... terlalu bagus untukku..”
“Siapa yang bilang begitu?”
“Eh?”
Hiruma nampak duduk di samping Hana dengan cuek. Sedangkan Hana hanya terus memperhatikannya.
“Apa lihat-lihat, Manajer Sialan?”
“Tidak... tidak apa..” Hana kembali memandang matahari terbenam di depannya ini.
“Sudahlah..”
“Hm?”
“Tak usah terlalu kau pikirkan,... omongan orang-orang sialan itu belum tentu benar..”
“D-darimana kau—“
“Kau tak perlu tahu aku dapat informasi mengenai kesedihan sialan mu itu darimana.. yang jelas, lebih baik sekarang kau cepat hapus air mata sialanmu itu.. membuat wajahmu yang jelek semakin jelek...”
Hana tersenyum, lalu perlahan mengusap air matanya.
“Hiruma...”
“Hn?”
“Apa kau... pernah merasa... diasingkan?”
“Tidak...”
“Bagaimana caranya agar kau tidak selalu diasingkan?”
“Aku juga tak tahu...”
“Eh?”
“Tepatnya, aku tidak tahu, apakah aku ini benar-benar dianggap oleh orang-orang sekitar atau tidak.. karena aku malas mempermasalahkan hal sepele seperti itu...”
“Hal...sepele?”
“Mau kita dianggap atau tidak oleh seseorang, itu tergantung bagaimana kita membawa suasananya.. jika kau bersikap acuh, dan tak peduli orang-orang itu menganggapmu atau tidak, mereka justru akan semakin tertarik untuk mengenalmu yang cenderung seperti tak mau mengenal mereka...”
“Oh, jadi ada timbal baliknya ya?”
“Ya, kurang lebih begitu...”
“Aku mengerti.. berarti...”
SRET
Hana berdiri dengan penuh kobaran api. “Aku sudah memutuskan! Bahwa aku, Mayonaka Hanabi, akan memulai langkah awal dari hidup baruku.... yang seperti Hiruma!”
GUBRAK
Hiruma entah terpeleset entah apa, tapi pada akhirnya, ia sweatdrop dengan sukses.
“Hoi, apa kau yakin kau ingin jadi sepertiku?”
“Aku sudah mantap, Hiruma! Aku juga bisa menjadi setan seperti kau!”
“Kau sungguh sangat amat tidak pantas, Manajer Sialan... sebaiknya kau kubawa ke UKS.. biar si anak profesor sialan itu memperbaiki jiwamu...”
“Aku baik-baik saja, Hiruma!”
“Kau nampak sangat tidak sehat.. apa jangan-jangan gara-gara terlalu stres dan tertekan?”
“Aku baik-baik saja, kapten bawel! Bahkan...”
GREP
Mata Hiruma terbelalak dengan sukses.
Kenapa? Karena Hana menggenggam tangan kanan Hiruma dengan kedua telapak tangannya. Erat pula.
“Bahkan... aku sangat berterima kasih padamu.. kau membawa keceriaanku kembali!”
“Lepaskan tanganku...”
“Tidak akan! Karena... karena aku... karena aku... aku masih mau menceritakan hal lain padamu.. soal..”
“Anak kepala sekolah sialan itu..”
“Bagaimana kau tahu?”
“Terlukis jelas di wajah yang jelek itu...”
“Huh, memangnya kau pikir kau tampan?! Kau juga jelek!”
“Kekekeke, kalau begitu, jangan menggenggam tanganku lama-lama, atau kejelekanku bisa menular lebih banyak padamu...”
“Berisik!”
Hana melepaskan genggamannya, dan memalingkan wajahnya dari Hiruma. Terlihat semburat pink di wajahnya.
“Jadi... apa masalahmu dengan si anak kepala sekolah sialan itu?”
“Aku... aku hanya merasa kesepian...”
“Hn?”
“Selama ini, Seiji selalu ada di sampingku... dia juga selalu setia membantuku kapanpun dan dimanapun, dan apapun yang terjadi.. tapi... semenjak kejadian pertarungan melawan dua vampire itu, dia berubah.. hanya karena aku lebih mengutamakan keselamatanmu daripada keselamatan dia dan yang lain.. aku panik... jadi aku bingung harus berbuat apa waktu itu.. dan yang paling menyakitkan adalah, saat dia mengatakan dengan jelas di wajahku, bahwa aku ini tak berguna untuknya.. itu... itu membuat hatiku sangat sakit..”
“Bisa kusimpulkan...”
“Apa?”
“Dia mulai membencimu secara mentah-mentah.. dan bahkan jika aku boleh jujur.. lebih baik kalian berdua saling menjauh... itu saran terbaikku... sebelum kau bertambah sakit hati...”
“APA?!”
...
“Yah, kurasa memang itulah cara yang terbaik.. iya kan?”
“Hah!?” Hana berpaling ke belakang, dan ada Seiji disana! ”S-Seiji...”
Seiji hanya memasang wajah datar.
TAP TAP TAP
Seiji perlahan berjalan mendekati Hana.
Sedangkan Hana malah diam. Tak tahu harus berbicara apa. Padahal, ada banyak sekali yang ia ingin bicarakan dan jelaskan pada Seiji.
“Kau tahu Hana?” Seiji memulai pembicaraan. “Kesimpulan dari seorang murid yang sangat cerdas seperti Hiruma.. bisa jadi benar-benar kesimpulan yang paling tepat.. jadi... kurasa memang sebaiknya.. kita menjauh...”
“Tapi, Seiji—“
“Dan apa yang ia sarankan itu benar... daripada kau bertambah sakit hati karenaku? Apa yang bisa kuperbuat lagi? Aku tak mau menyakiti hati gadis lagi, Hana...”
“Seiji, aku—“
“Dan selain itu... dengan menjauhnya aku darimu... dapat disimpulkan bahwa.. kita memang tak dapat mungkin bisa bersama...”
“LALU APA KAU AKAN BENAR-BENAR MENINGGALKANKU HANYA KARENA SEBUAH KESIMPULAN BODOH YANG DIBUAT OLEH ORANG CERDAS?!”
Seiji terbelalak.
“Kau tak pernah tahu Seiji.. aku sangat membutuhkanmu.. aku tak bisa apa-apa tanpamu... kau.. kau adalah panutan hidupku, Seiji... aku.. aku hanya wanita bodoh perebut kebahagiaan orang lain! Aku.. aku hanya...hanya.. hanya sebuah pengganggu bagi kalian semua!”
“Hana—“
“Aku bahkan tak pantas disandingkan sebagai temanmu Seiji! Kau yang pintar, berguna bagi orang banyak, tak pantas dekat denganku meski AKU SANGAT MENGHARAPKAN SETIAP KESEMPATAN YANG ADA UNTUK SELALU DEKAT DENGAMU!! Aku... aku selalu ingin bisa menjadi yang terbaik bagi temanku.. tapi... berbeda hal nya dengan mu Seiji.. aku.. aku ingin menjadi yang terbaik.. bagi orang aku sa—“
GREP
“—yang..”
Nampak terlihat Seiji merangkul tubuh Hana dengan erat. Ia semakin memendamkan wajah Hana di dada bidangnya. Perlahan, ia elus rambut Hana pelan.
“Pada akhirnya.. semua terbukti jelas sore ini...” ucap Seiji.
“A-apa maksudmu?” sahut Hana sambil menahan muka merah padamnya.
“Terima kasih untuk bantuanmu, Hiruma.. kau bisa pergi sekarang..”
“Baguslah, itu yang kuinginkan dari tadi.. kenapa juga aku harus menonton drama sialan seperti ini? Tch..” Hiruma pun beranjak pergi dari atap sekolah.
...
Suasana mulai hening. Hanya suara hembusan angin yang terdengar.
“Aku... minta maaf.. Hana...”
“Eh?”
“Aku terlalu mementingkan ego ku.. jadi, aku tak sadar kalau kau ternyata selama ini menyimpan beitu banyak perasaan yang ingin kau luapkan padaku, hingga kau malah merasa sakit hati seperti ini...”
“Seiji...”
“Maafkan aku... Hana...”
CUP
Seiji mencium punggung kepala Hana dengan lembut. Hana hanya memejamkan matanya, dan mencoba menikmati suasana yang mungkin tak akan pernah ia bisa dapatkan lagi.
“Seiji...baka..”
...
...
“Sepertinya ada yang sedang berbahagia...”
“Eh?” suara yang tak asing membuyarkan pikiran Hana.
“Wah wah, selamat ya...”
“Ciyee, yang sudah baikan...”
Hana dan Seiji melepaskan pelukannya. Mereka melihat kebelakang. Ada Puti, Inglid, Mizu, dan Hiruma disana.
“K-Kalian...” Hana nampak terbelalak kaget. “Eeeto... tu-tu-tunggu dulu! Aku tak bermaksud begitu! A-aku, aku.. aku...”
“Tak apa...” Puti tersenyum manis. “Aku tak marah kok, Hana... lagipula, masih banyak laki-laki lain yang mengantri untukku... hahaha...”
“Tapi... tadi kau...”
“Itu hanya akting...”
“Akting?”
“Ceritanya begini...” Seiji mulai menjelaskan.
~flashback~
~belakang gedung AWS~
“Kau mau bicara apa, soal si Manajer Sialan itu?”
“Aku hanya ingin.. kau membantuku untuk kembali berdamai dengannya... kami sedang jaga jarak belakangan ini, karena pertempuran melawan vampire waktu itu... bisakah kau membantuku?”
“Kenapa harus aku?”
“Aku sudah meminta anak gadis lain untuk berakting menggodanya tentang hubungan dia denganku, dan aku juga sudah suruh Puti untuk pura-pura marah pada Hana soal kejadian putusnya hubungan kami tempo dulu... jadi, aku rasa satu-satunya pria yang pas sebagai penenang dia, adalah kau! Karena dia pasti sedih mendengar amarah Puti! Dan disaat dia sudah mulai membaik, aku akan datang, dan semua masalah selesai! Bagaimana?”
“Jauh juga rencana yang kau pikirkan.. apa menurutmu akan berhasil? Rencana sialanmu itu nampaknya payah sekali...”
“Ini kan strategi soal perasaan, bukan amefuto.. dan aku yakin berhasil, karena aku tahu betul sifat Hana!”
“Baik, dengan satu syarat!”
“Apa itu?”
“Kau harus memberikan aib terbesarmu sepanjang sejarah padaku... kekeke...”
“Deal..”
~flashback end~
“Dan darisanalah, semua ini terjadi...” jelas Seii dengan eksprei datar.
“Kau.. rela memberitahukan rahasia terbesarmu... hanya demi berbaikan denganku?” Hana nampak tak percaya.
“Bagaimana lagi? Tak ada cara lain... memang sih, resikonya agak sedikit cemburu.. tapi..”
PUK
Seiji menepuk kepala Hana. “Asalkan bisa mengetahui perasaanmu yang sebenarnya, dan kembali berbaikan dengamu, merupakan kesenangan tersendiri untukku..”
“Seiji bodoh!” nampak wajah Hana memerah.
“Yang penting, semua masalah terselesaikan! Iya tidak?” sahut Inglid.
“Betul betul betul! Hahaaha....” Mizu menanggapi.
Maka hari itu, pada akhirnya, Hana dan Seiji kembali berdamai seperti biasa.
~*OMAKE*~
“Kekekeke... nah, readers sialan sekalian! Apa kalian penasaran dengan rahasia-rahasia sialan yang dimiliki oleh si anak kepsek sialan? Baik, akan kubacakan satu persatu dari 500 ribu lebih rahasia yang ia miliki! Kekeke... pertama! Dia masih suka mengompol di tempat tidur sampai kelas 1 SMP! Kedua, dia sering mengintipi Hana yang sedang melakukan aktivitas APAPUN di kamarnya dengan teropong super khusus sialan miliknya! Dan yang ketiga, dia selalu keluar sisi manjanya ketika hanya sedang berdua dengan ayah sialannya! Keempat, dia phobia pada dasi kupu-kupu! Kelima, dia—“
“HIRUMAAA!!!”
“Apa, Manajer Sialan?! Kau mengganggu acaraku saja! ini adegan penting!!”
“Adegan pembongkaran rahasia pribadi seseorang sangat tidak pantas! Pergi kau dari sini!”
“Tch, dasar cerewet! Baiklah, readers sialan, nanti kita lanjutkan kapan-kapan yang entah kapan aku pun tak tahu kapan! Kekeke...”
“Cepat kembali ke lapangan!!”
“Seharusnya aku yang berkata begitu!!”
“Oh, iya,... maaf...”
~*TO BE CONTINUED*~
.
 
Keep Spirit Up!
Hana-chan

0 komentar:

Posting Komentar