K-On Ritsu Tainaka

Welcome

Semoga semua informasi yang saya berikan, bisa bermanfaat untuk kita bersama...

Ganbatte ne~

Perkembangan Sena (Chapter 2: Sena's The Maid)

Jumat, 02 Maret 2012

apabila ingin menggunakan cerita ini, harap cantumkan nama situs ini.. terima kasih dan selamat membaca...
.

~*An Eyeshield 21 Fanfiction*~
~*Perkembangan Sena by Mayumi Koyuki*~
~*Chapter 2: Sena's The Maid*~
~*Rated: T*~
~*Disclaimer: Riichiro Inagaki and Yusuke Murata*~
~*Pair: SenaxSuzu*~
~*Warning! Gaje, abal-abal, OOC, typo(s), gila, dll etc dsb*~
.
 Don’t Like, Don’t Read!
Tombol back menanti anda!
.
~Minggu, pukul 07.30~
-Suzuna’s POV-
“Huaaaah....” aku menguap dengan lebarnya, sampai-sampai keluar air mata disudut mataku. Ini hari Minggu, dan jujur, sebenarnya aku malas bangun dari tempat tidur. Apalagi setelah ada pesta bantal sekaligus pesta ulang tahun kecil-kecilan sahabatku, Miyuki, di rumahku kemarin malam. Haduh, rasanya benar-benar ngantuk dan lelah sekali. Untungnya, aku berhasil mengusir kakakku yang super idiot itu! Jadi, aku dan seluruh temanku, bisa berpesta dengan riang dan nyaman, tanpa gangguan kakakku.
Setelah aku terbangun dari tidurku, aku turun ke lantai bawah. Ya, karena lantai dua adalah kamarku dan kakakku. Tapi kami tidak tidur satu kamar! Tak sudi aku!
Kulihat kearah ruang tamu. Berantakkan. Ya, rumah ini bagai kapal pecah! Mulai dari ruang tamu, dapur, ruang makan, semuanya! Kecuali kamar kakakku dan orang tuaku. Teman-temanku tidak berani masuk ke kamar mereka, karena katanya tidak sopan. Huh, padahal kalau mau masuk ke kamar kakakku masuk saja! Biar hancur kamarnya!
Oh iya,mengenai orang tuaku...
Orang tuaku sedang tidak ada di rumah untuk waktu tiga hari. Karena mereka harus pergi bekerja keluar kota.
Dan kemana aku usir kakak? Sudah pasti, aku usir dia ke rumah tetangga saja. Dan untungnya, tetanggaku itu sama idiotnya dengan kakak. Jadi aku bisa dengan leluasa menitipkannya pada tetanggaku itu.
Duo idiot dalam satu rumah....
Ah, tak bisa kubayangkan!
Baiklah, kembali ke rumahku yang bagaikan kapal pecah ini. Jujur, aku malas membereskannya, karena aku punya banyak sekali tugas sekolah yang belum terselesaikan, dan harus kukumpulkan tepat esok hari!
Bagaimana ini?
Kukuku, untung saja aku sudah menyuruh Sena kemari. Kukuku....
Hey, kenapa aku jadi tertawa seperti Kak Agon?
Ting Tong...
Eh, ada seseorang yang membunyikan bel. Aduh, mana aku belum mandi lagi? Ah, ya sudahlah, biarkan saja...
Cuek saja Suzuna...
Perlahan kubuka gagang pintu.
Cklek..
Seseorang dengan nafas terengah-engah berdiri tepat dihadapanku.
“Sena!” sahutku agak terkejut.
Kenapa dia datang secepat ini? Apa jangan-jangan aku yang terlalu banyak melamun?
“Hah.. hah.. hah.. halo Suzuna... hah.. maaf aku terlambat! Hah... hah... hah...”
“Eh?”
Kupandangi jam dinding yang terletak disamping pintu depan. Entah kenapa, tapi ibuku percaya ramalan Feng Shui. Katanya kalau memasang jam dinding di dekat pintu rumah, bisa mendatangkan kebahagiaan seiring dengan berjalannya waktu. Apa itu benar?
Kulihat ternyata...
“Sena terlambat lima menit...” gumamku.
“Maafkan aku Suzuna...” ujar Sena dengan nafas yang mulai kembali normal.
Aku sih okay okay aja dia mau terlambat lima jam sekalipun. Tapi..
Mengingat aku sedang berakting marah padanya, aku harus menghukumnya.
Tapi...
Aku tidak tega!
Tapi..
Ah ya sudahlah!
Saatnya kujalankan rencanaku! Kukuku...
Devil Suzuna beraksi!
“Kenapa kau terlambat?” tanyaku dengan nada yang agak ketus.
 “Maaf Suzuna! Aku sudah berlari dari rumahku dengan Devil Bat Ghost! Tapi jalanan yang padat, serta jarak rumahku dan rumahmu yang jauh, menghambatku. Maaf Suzuna, maaf!”
“Tidak kumaafkan!” sahutku cuek sambil memalingkan wajahku darinya.
“Apa? Ayolah Suzuna! Aku tidak tahu kalau aku akan terlambat! Ini juga bukan kemauanku!”
“Siapa juga yang menyuruhmu terlambat, payah? Aku tidak memberikan toleransi sedikit pun tahu! Aku sudah menunggu, dan kau malah terlambat! Giliran janjian dengan Kak Hiruma, baru kau datang tepat waktu!”
“I-itu kan... Suzuna, kau tahu sendiri bagaimana Kak Hiruma, bukan? Aku terlambat, maut menjemputku!” Sena sendiri merinding ketika mengucapkannya.
“Who care? Ah, aku tahu! Mungkin aku juga harus sekejam Kak Hiruma ya? Baru kau akan datang tepat waktu?”
“Eh? Su-Suzuna-“
“Sudah cukup! Jangan banyak bicara lagi!”
“Ba-baiklah. Ngomong-ngomong, apa aku akan tetap berdiri disini Suzuna?”
“Bodoh! Ya tentu saja masuk! Ayo!” kataku sedikit... membentak?
Aku dan Sena masuk ke dalam rumah.
*Di lain tempat...*
-Normal POV-
Seseorang dengan mengenakan topi hitam, mantel hitam, kaos hitam, celana hitam, serta sepatu sport hitam, sedang bersembunyi diatas atap rumah Suzuna.
“Kekekekeke, si cheer sialan itu sudah mulai ya? Baiklah...” orang *atau setan?* itu mengeluarkan sebuah buku hitam kecil yang bertuliskan Akuma Techou.
Makhluk (?) itu menyelinap ke sekitar rumah Suzuna.
*Kembali ke rumah Suzuna...*
-Sena’s POV-
Aku dan Suzuna mulai memasuki rumah Suzuna.
Aku masuk ke ruang tamu...
Dan...
“Hiiiieeeee?!” teriakku kaget saat melihat ruang tamunya yang begitu..
Hancur mungkin?
Apa yang terjadi? Apa ada maling masuk?
“Baik, Sena! Kau tunggu disini! Aku akan ambil sesuatu!” sahut Suzuna sambil naik ke lantai dua.
DEG!
Entah kenapa, perasaanku sangat tidak enak. Dan ini sudah dimulai dari kemarin. Apa yang akan terjadi?
Dan...
Dan kenapa Suzuna benar-benar bersikap sedingin itu padaku? Setahuku, kalau dia marah, besoknya bisa kembali jadi Suzuna yang ceria seperti biasanya. Apa dia benar-benar marah gara-gara kejadian pagi itu? Separah itukah?
Oh, aku benar-benar merasa bersalah pada Suzuna.
Minta maaf gara-gara terlambat lima menit saja tidak dimaafkan. Maafkan aku Suzuna...
“Senaaaa!”
“Eh?”
Suzuna memanggilku dari lantai dua. Ada apa? Aku langsung naik ke atas, dan kulihat Suzuna berdiri di depan kamarnya.
Setidaknya, karena pintu yang tertutup itu bertuliskan “Suzuna’s Bedroom,”.
Dan dia membawa baju...
Bukan, itu seragam! Dan bukan seragam amefuto!
Itu... seragam...
Maid?
Hey, untuk apa?
“U-untuk apa seragam itu, Suzuna? Kau memintaku untuk memberikannya pada seseorang?”
“Bukan...”
“Lalu?”
Suzuna, melemparkan seragam itu padaku. Untung bisa kutangkap, meski dengan agak gelagapan.
“Pakai!” sahut Suzuna tiba-tiba.
“APA?!” mataku terbelalak mendengarnya.
Aku harus memakai seragam ini? Hey, yang benar saja Suzuna! Kau bercanda kan?
“Kubilang pakai!”
“Ta-tapi Suzuna! Kenapa aku harus memakai seragam ini? Dan... dan apakah.. tidak ada seragam yang rancangannya untuk laki-laki? Ini kan model untuk perempuan..” Aku sweatdrop saat mengatakannya.
“Kemarin kau bilang mau melakukan apapun untukku, supaya aku memaafkan kesalahanmu! Dan sekarang? Kenapa kau malah menolak? Kau sudah terlanjur memberikan janji padaku, dan kau tahu? Setiap orang yang sudah berjanji padaku, tidak boleh mengingkarinya, atau dia akan merasakan akibatnya!”
“Tapi Suzuna, untuk apa aku memakai ini?”
“Sudah, pakai saja!”
“Tapi-“
“CEPAT PAKAI!”
“I-iya!”
Aku mulai membuka kancing bajuku.
“Hey, apa yang kau lakukan bodoh?!”
“Mengganti bajuku. Kau yang menyuruhku begitu kan?”
“SENA BAKA! Ganti baju jangan disini!!  Dikamarku saja sana!!”
“HIIEE!! Be-benar juga! Maaf Suzuna!”
Aku lari ke kamar Suzuna, dan menutup pintunya. Aku yakin, mukaku pasti sangat merah saat ini. Dan kulihat sepintas wajahnya Suzuna juga memerah tadi. Hey, dia blushing? Hahaha, aku tertawa kecil melihatnya. Lucu sekali dia..
Eh, apa?
*Di tempat lain...*
-Normal POV-
Setan yang sedari tadi mengintip Suzuna dan Sena saat ini sedang bersembunyi dibalik jendela kamar Suzuna yang tertutup gorden itu.
Untung ada celah kecil, dan itu memudahkan dia untuk mengintip dan menguping percakapan Sena dan Suzuna tadi.
“Kekekeke, lihatlah, betapa konyolnya kau memakai baju itu anak pendek! Kekekeke...”
Setan itu memotret Sena yang sudah memakai baju maid. Dan memasukkannya ke daftar ancaman dalam Akuma Techou.
Tiba-tiba, seorang malaikat cantik yang kebetulan melewati rumah Suzuna saat berjalan-jalan, melihat tingkah sang setan yang sudah benar-benar kelewat batas menurutnya.
Sang malaikat, Anezaki Mamori, menghampiri sang setan yang tidak lain adalah Hiruma Youichi.
“Hiruma!”
“Eh?”
Hiruma melihat ke bawah. Tepat disamping tangga yang dia pakai untuk meraih jendela kamar Suzuna sekaligus untuk pijakannya saat ini terdapat Mamori yang sudah memasang ekspresi marah padanya.
“Apa yang kau lakukan disini manajer sialan?!” sahut Hiruma dengan nada bicara agak pelan, karena takut ketahuan Sena yang sedang ganti baju dengan seragam maid itu.
“Justru aku yang seharusnya bicara begitu, Hiruma! Apa yang kau lakukan? Mengintip Suzuna hah?!” Mamori tidak memelankan suaranya. Lebih baik Suzuna mengetahui semua ini pikirnya.
“Sssst!! Pelankan suaramu, manajer sialan! Lagipula, siapa yang mengintip si cheer sialan itu? Tak sudi aku! Lebih baik mengintipmu!” Hiruma langsung memalingkan mukanya dari Mamori, dan nampak semburat pink muncul di wajahnya.
Sedangkan wajah Mamori sudah merah seperti kepiting rebus.
Tapi...
Dia bilang lebih baik mengintip Mamori. Dan itu berarti...
“HIRUMA!! Apa jangan-jangan kau pernah mengintipku ya, hah?!”
“Eh, apa?” Hiruma sontak melihat ke arah Mamori lagi.
“KURANG AJAAAR!!”
“HAH?”
Mamori menjatuhkan tangga tempat Hiruma berpijak. Dan otomatis, tangga itu terjatuh beserta Hiruma.
“KYAAA!” teriak Hiruma.
BRUK
Hiruma tepar seketika. Mamori menghampiri Hiruma yang sedang merintih kesakitan karena kepalanya yang jatuh lebih dulu. Untung dia tidak gagar otak!
“Mamori....” Hiruma menggeram.
“Eh?” Mamori yang memasang ekspresi marah, langsung berubah menjadi kaget.
Kaget karena Hiruma menyebut namanya. “Apa, Hiruma?” sahut Mamori tetap pura-pura marah.
“Dasar manajer tolol!!” Hiruma langsung berdiri dan menatap Mamori lurus-lurus.
“Apa kau bilang?!”
“Heh, untung aku tidak kena gagar otak atau amnesia gara-gara kau, manajer bodoh!”
“Kenapa menyalahkan aku? Harusnya kau yang sadar diri! Buat apa coba naik ke atas jendela kamar Suzuna? Tidak ada gunanya tahu!”
“Nah, kenapa kau mengurusiku kalau begitu? Toh, itu kan urusanku, untuk apa kau ikut campur?”
“Hey! Ingat ya, Suzuna itu teman satu tim kita! Dan aku tidak akan membiarkanmu macam-macam padanya!”
“Siapa juga yang macam-macam dengan si cheer sialan? Lagipula, bukannya kau hanya melindungi si anak pendek itu?”
“Huh, untuk apa aku harus menjelaskannya padamu? Itu bukan hal penting! Lagipula-“
SREK
“Eh?” sahut kedua orang yang tengah bertengkar itu. Mereka sontak melihat ke atas. Jendela kamar Suzuna terbuka, dan nampaknya akan ada seseorang yang keluar.
Hiruma menutup mulut Mamori dan menyeretnya untuk bersembunyi dibalik pohon.
Mamori yang memberontak, tentu membuat Hiruma kesal. Lalu Hiruma mendekap Mamori ke dalam dada bidangnya, agar manajernya itu tidak banyak bicara lagi dibalik pohon.
Jantung keduanya berdebar cepat saat itu.
*kembali ke rumah Suzuna...*
-Sena’s POV-
Kubuka jendela kamar Suzuna, karena sepertinya tadi aku mendengar ada suara orang terjatuh. Dan suara itu seperti suara... Kak Hiruma? Dan aku juga merasa mendengar suara Kak Mamori tadi!
Tapi...
Kupandang diluar jendela, kosong. Tidak ada siapa-siapa. Kecuali tangga yang tergeletak disamping pohon rindang milik Suzuna itu. Yah, mungkin yang jatuh itu tangga yang tidak sengaja tersenggol oleh kucing mungkin?
Tapi, darimana asal suara Kak Mamori dan Kak Hiruma?
“SENAAAAA!!!”
“I-iya Suzuna!”
Ah, lupakan saja. Tujuanku kesini kan untuk menebus kesalahanku pada Suzuna, bukan mencari Kak Mamori dan Kak Hiruma.
Langsung saja kuhampiri Suzuna yang memanggilku di dapur itu.
Saat sampai di lantai bawah, kulihat dapurnya pun tidak kalah berantakan dengan ruang tamu dan kamarnya tadi. Apakah Suzuna tidak pernah membersihkan rumahnya? Minimal, kamarnya sendiri mungkin?
“Baik Sena! Acara penebusan kesalahanmu akan segera kumulai!” ucap Suzuna yang membuatku cukup merinding ketika mendengarnya.
“Ba-baiklah...” aku hanya tertunduk lesu.
“Yak! Sena, sekarang, kau bersihkan seluruh ruang dapur ini, dan buatkan aku makanan! Hmm, apa ya? Ah, omellet saja cukup kok!”
Apa? Apa aku tidak salah dengar? Suzuna menyuruh-nyuruh aku layaknya seorang pembantu? Sekarang aku mengerti, kenapa aku harus memakai seragam maid ini. Tapi aku bersyukur, karena Suzuna itu tidak seperti Kak Hiruma. Karena jika Suzuna ketularan sifat Kak Hiruma, bisa-bisa dia langsung memotretku dan memasukkan fotoku ke dalam buku ancamannya.
Suzuna pun naik menuju ke kamar mandi untuk menyegarkan dirinya. Ah, mukaku jadi merah membayangkannya.
Baik, Sena! Kau mulai berpikir macam-macam! Sekarang, cepat kerjakan tugasmu, atau Suzuna tidak akan pernah memaafkanmu seumur hidup! Aku pun mulai mengerjakan semua pekerjaan berat ini. Yosh! Kumulai dari menyapu dan mengepel dahulu saja.
*Satu jam kemudian...*
Kulihat semua lantai sudah bersih! Bagus! Kalau dipikir, cepat juga ya kerjaku?
Sekarang mari mulai dengan membuat omellet. Hmm, untung aku sering membuat omellet di rumah. Hehehe, aku jadi bangga dengan kemampuan memasakku.
Tidak lama setelah omellet siap, Suzuna turun ke lantai bawah. Kulihat Suzuna membawa buku-buku pelajaran di tangannya yang lumayan banyak. Aku berinisiatif membawakannya dan menaruhnya di ruang tamu. Sekalian, aku harus segera menata kembali ruang tamu yang acak-acakan ini. Ah, aku benar-benar bersikap layaknya pembantu asli Suzuna sekarang.
Ketika aku mengelap kaca jendela, kulihat Suzuna tengah menyantap omellet buatanku. Apakah enak menurutnya? Entahlah, aku tidak terlalu menghiraukannya. Karena aku yakin betul, masakanku pasti enak! Hahaha, okay, sekarang aku mulai agak sombong.
Hey, sepertinya Suzuna sudah selesai makan. Kebetulan, aku juga sudah selesai mengelap seluruh jendela rumah Suzuna, jadi aku sekalian ambil piring bekas omelletnya dan mencucinya. Kalau Kak Hiruma melihat ini, dia pasti bilang aku ini budak yang sangat berguna.
Haaah, ironis sekali...
Hmm, sepertinya Suzuna menuju ruang tamu yang sudah tertata kembali dengan sempurna itu. Hahaha, aku bangga, karena ternyata aku ini laki-laki yang bisa bekerja keras juga.
Baik, aku sombong lagi! Aku akui itu...
Hmm, kulihat Suzuna mengambil buku-buku yang kusimpan di meja tadi. Sepertinya, dia sedang mengerjakan tugas sekolahnya.
Pantas dia tidak membereskan rumahnya hari ini. Pasti karena tugas sekolahnya yang menumpuk. Tapi, apa mungkin juga karena dia malas? Ah, entahlah...
Eh, aku hampir lupa! Ada satu ruangan lagi yang belum aku bersihkan! Kamar Suzuna! Tapi...
Itu kan ruangan pribadinya, apa dia akan mempersilahkanku? Ah, lebih baik aku tanya saja. Daripada ada salah paham?
“A-ano.. Suzuna..”
“Ng?” Suzuna tetap fokus pada tugasnya. Kulihat ada lima tumpuk buku disampingnya. Sebanyak itukah tugasnya?
“Aku, mau membersihkan kamarmu, boleh tidak? Karena, hanya tinggal kamarmu saja yang belum aku bersihkan! Tenang saja, aku tidak akan menyentuh apapun! Aku janji!”
“Terserah kau...” jawab Suzuna singkat. Sangat singkat.
Kalau begitu, tidak apa-apa aku masuk ke kamarnya sekarang. Hey, tadi saat ganti baju juga aku masuk ke kamarnya kan?
CKLEK
Kubuka pintu kamar Suzuna. Nampaknya, barang-barang miliknya sudah dia tata kembali ke tempatnya ketika ganti baju sehabis mandi tadi. Bagus, kalau begitu, aku hanya tinggal membersihkan jendelanya saja.
Ku lap jendelanya, hingga bersih bening, seperti tanpa kaca! *hey, itu iklan!*
Dan, oh! Ada debu yang cukup tebal disekitar meja belajarnya. Kubersihkan juga ah...
Toh, aku tidak menyentuh apapun kan?
Ketika asyik membersihkan meja belajar Suzuna, aku tak sengaja menjatuhkan sebuah foto. Foto itu jatuh dengan bagian belakang foto yang berada diatasnya. Kuambil foto itu.
Tadinya aku ingin menyimpannya lagi di tempatnya semula, tapi saat kulihat tulisan yang tertera pada foto itu, aku mengurungkan niatku.
AISHITERU
Itulah tulisan yang tertera pada foto itu. Kubalik fotonya, dan kulihat pada foto itu, ada gambar...
Aku?
Eh? Aku?
Mukaku terasa panas melihatnya. Dia menyimpan fotoku yang sedang mengenakan seragam amefuto itu. Dan kulihat, aku tidak mengenakan helm saat itu. Oh, ini foto ketika kami berlatih tanding dengan tim Bando Spiders. Karena kulihat, jauh dibelakangku ada Akaba, Kotaro, dan Julie yang nampaknya sedang bertengkar itu.
Baik Sena! Kau mulai keterlaluan! Seenaknya saja mengambil barang orang. Buru-buru kusimpan kembali foto itu di tempatnya, seperti keadaannya yang semula. Dan aku langsung keluar dari kamar Suzuna.
Cepat-cepat kuhampiri Suzuna yang masih terlihat asyik dengan tugas sekolahnya. Aku duduk disebelahnya. “Semua tugasku sudah selesai Suzuna. Apa ada yang perlu kukerjakan lagi?”
“Gantilah bajumu..”
“Eh?”
“Gantilah, tugasmu sudah selesai Sena...”
“Ah, baiklah kalau begitu...”
Aku langsung mengambil baju gantiku dan kembali berganti kostum namun di kamar mandi saja kali ini. Aku malu sendiri kalau harus melihat foto itu lagi. Yang membuatku malu, bukan fotoku dengan gaya cengar cengir itu. Tapi, tulisan aishiteru yang tertera pada foto itu. Ah, mukaku pasti merah saat ini.
Selesai berganti pakaian, kuhampiri Suzuna.
“Tugasmu banyak ya, Suzuna?”
“Lumayan...” ucap Suzuna yang lagi-lagi sangat singkat.
“Hmm, begitu. Apa ada yang bisa kubantu?”
“Tidak usah. Sekarang, pulanglah Sena. Aku yakin, kau pasti sangat lelah..”
“Eh? Ti-tidak apa-apa kok! Aku bisa lebih lama disini!”
“Kenapa?”
Karena aku ingin lebih lama bersamamu Suzuna. Ah, apa yang kupikirkan?
“Karena... karena aku kebetulan sedang tidak sibuk! Ahahaha....” aku tertawa garing.
“Begitu ya...” kali ini Suzuna menatapku lekat-lekat. Eh? Ada apa? Ada yang salah dengan wajahku?
“Ke-kenapa Suzuna?”
Dia tersenyum. Ah, manis sekali senyumnya. Hey, aku bilang apa tadi?
“Terima kasih, Sena...”
“Eh?”
“Sekarang kumaafkan sepenuhnya semua kesalahanmu! Aku benar-benar tertolong dengan kehadiranmu disini!”
“Ah, begitu! Hehehehe, i-iya sama-sama Suzuna!” aku tersipu malu.
“Nah, sekarang, sebagai rasa terima kasihku, tutuplah kedua matamu, dan jangan mengintip!”
“Eh? Kenapa?”
“Pokoknya jangan mengintip!”
“Ba-baiklah!”
Perlahan, kututup mataku. Jantungku berdegup sangat kencang.
Satu menit kemudian, sesuatu yang lembut menjamah bibirku. Hey, apa ini? Sontak, kubuka mataku, dan kudapati wajah Suzuna yang berada sangat dekat denganku!
Di-dia...
Menciumku?
Tidak, ini pasti mimpi! Tapi entah kenapa, nafsuku lebih besar dibandingkan dengan akal sehatku kali ini. Jadi, tanpa pikir panjang, kubalas ciumannya.
*di tempat lain...*
-Normal POV-
Hiruma nampak asyik memotret adegan mesra antara Sena dan Suzuna. Mamori Hiruma ikat di pohon tempat mereka sembunyi tadi dan membungkam mulut Mamori dengan saputangan yang Mamori bawa.
Dan pastinya, Mamori saat ini sedang mencoba melepaskan diri. Tapi tetap saja, mustahil untuknya.
Ketika Hiruma selesai mencatat sesuatu di Akuma Techounya, dan menyimpan foto itu di buku hitam kecilnya itu, dia kembali menghampiri Mamori. *kamera yang digunakan Hiruma, itu kamera yang jika dipakai memotret, hasilnya akan langsung keluar berupa gambar cetakan foto yang sudah jadi dengan utuh. Pernah dengar atau melihat kamera seperti ini kan?*
Hiruma melepaskan seluruh ikatan Mamori.
“Sudah dapat, ancaman bagusnya Hiruma?” sahut Mamori kesal.
“Kekekeke, sudah!” ucap Hiruma sambil memperlihat tujuh belas deret foto memalukan Sena dan Suzuna. Mulai dari Sena yang sedang memakai baju maid, mengepel, menyapu, dan lain-lain.
Bahkan....
Foto Sena milik Suzuna yang bertuliskan aishiteru itu berada tepat dalam genggaman Hiruma.
Mamori terbelalak melihatnya. “Sena... ini benar-benar Sena?” tanya Mamori tidak percaya.
“Kau pikir siapa lagi?”
“Sena, tak kusangka. Ia sudah banyak berubah! Sekarang, ia benar-benar sudah dewasa. Aku bangga padamu Sena. Kau sudah berkembang. Aku senang melihat perkembanganmu Sena..” ucap Mamori sambil tersenyum.
“Keh! Ya sudah! Pengintaianku sudah selesai! Daripada kau terus membanggakan si anak pendek itu, lebih baik kau segera pulang!”
“Huh, dasar! Tidak bisa lihat orang senang!”
“Kekekeke, aku selalu senang diatas penderitaan orang lain! Kekeke...”
“Itu tidak boleh Hiruma!”
“Sudah lah, banyak omong sekali kau!”
Hiruma merangkul bahu Mamori dan berjalan pulang bersama Mamori. Sedangkan wajah sang malaikat itu hanya merah padam ketika sang setan merangkul bahunya dengan ‘mesra’.
.
~*TO BE CONTINUED*~
.
Keep Spirit Up! 
Mayu-chan

0 komentar:

Posting Komentar