K-On Ritsu Tainaka

Welcome

Semoga semua informasi yang saya berikan, bisa bermanfaat untuk kita bersama...

Ganbatte ne~

The Devil's Power

Jumat, 02 Maret 2012


moshi-moshi, Hana kali ini mempublish beberapa episode cerita yang didedikasikan untuk sebuah grup di facebook, yaitu Anime World School.
Pemeran-pemeran yang terdapat dalam kisah ini, adalah nick name dari para anggota grup. Dan cerita ini dibuat oleh saya, dengan nick name 'Hana' disini.
Termasuk kisah dan alurnya, semua request dari para anggota grup. Dan apabila kisah ini akan anda pakai, harap cantumkan situs ini. Terima kasih, dan selamat membaca..
.
~*Hana-chan Proudly Presents*~
~*A Random Anime Fanfiction*~
~*The Devil’s Power by Hana-chan*~
~*Rated: T semi M <gore and slight lemon!>*~
~*Genre(s): Adventure, Drama, Fantasy, Friendship, Humor, (slight) Horror, Hurt/Comfort, Mystery, Parody, Romance, Spiritual, Supernatural, Tragedy*~
~*warning! Gaje, abal-abal, typo bertebaran layaknya bintang di langit (?), isinya campur-campur kaya gado-gado (?), OOC sangat, OC, slight yaoi and yuri*~
.
*beberapa hari kemudian…..*
~ruang kesehatan~pkl. 13.00~
Nampak Hana duduk kursi seorang diri demi menunggui teman-temannya yang tengah terluka akibat pertempuran. Biasanya ia ditemani Shujin, namun Shujin sedang ada les tambahan dari sekolah, maka dari itu ia tidak ikut Hana untuk menemani teman-teman yang lain.
“Hah… bosan…” gumam Hana sambil terus membolak balik majalah yang disediakan disana.
“Kau pasti lelah ya, menjaga kami terus?” tanya Inglid cemas. Karena dari raut wajahnya, Hana terlihat agak pucat.
“Hm? Ah, tidak… ini sih bukan apa-apa… hehehe…” Hana tertawa garing.
“Tapi yang terpenting, Seiji sudah bangun…” Fuji melirik ke arah Seiji yang tengah asyik memakan apel.
“Hm? Ah, iya… ini kan berkat penjagaan yang ketat dari Hana..” Seiji melirik Hana jahil.
“Hah? Kenapa jadi aku? Kau harusnya berterima kasih pada Riku! Dia yang telah membuatmu sadar dari tidur panjangmu! Hahahah!” Hana tertawa lepas.
“Oh iya, Shujin-senpai mana?” tanya Mizu yang tumben sekali belum melihat Shujin sampai jam segini.
“Senpai sedang ada les tambahan… dia bilang, kali-kali ikut les tak ada salahnya… hehe..” jelas Hana sambil menyimpan majalah yang tadi ia baca di meja.
Ia pun berjalan mendekati Seiji sambil bertolak pinggang.
“Dan kau!” Hana menunjuk Seiji tepat di wajahnya. Ekspresi Seiji tetap datar. “Gara-gara kau telat bangun, kami jadi sempat kesulitan mencari anggota baru!”
“Tapi pada akhirnya kan ditemukan juga… hehehe…” Seiji berkata sambil terus memakan apelnya.
“Huh, kau tak tahu betapa takutnya aku ketika cincin itu dicuri oleh Shujin! Aku takut Seta-sama akan memarahiku!”
“Itu salahmu sendiri! Kau yang jorok menyimpannya… bayangkan jika Shujin-senpai bukanlah anggota yang terpilih, lalu cincin itu jatuh ke tangannya.. kita yang harusnya 10 anggota, malah jadi 9, dan kemungkinan kita untuk menang melawan Nowheresville jadi kecil kan? Hehehe…”
“Iya iya, aku yang salah.. maaf…”
Seiji mengacak-ngacak rambut Hana.
“Heey!” Hana protes sambil merapikan lagi rambutnya.
“Hahaha! Kau ini terlalu responsif…”
“Responsif apanya? Huh…”
BRAK!
Semua dikagetkan dengan suara pintu yag digebrak secara keras oleh Shujin!
“Senpai! Jangan bikin kaget ah!” sahut Hana.
“Maaf maaf… tapi aku benar-benar stres gara-gara les tambahan itu! Makanya aku memutuskan untuk bolos saja! Hahahaha! Tak kusangka teman-temanku bisa tahan karena les itu…”
“Itu karena mereka sudah terbiasa… harusnya kau bisa membiasakan dirimu juga..”
“Ah, ya sudahlah… lagipula aku sudah terlanjur bolos.. hahah! Oh iya, bagaimana keadaan kalian?”ujar Shujin sambil menyimpan tasnya di kursi yang disediakan disana.
“Yah, kami sudah mulai membaik.. sepertinya malam ini juga sudah diperbolehkan untuk kembali ke kamar asrama…” jawab Mizu sambil membetulkan letak kacamatanya.
“Syukurlah..” Shujin duduk di kursi tempat ia menyimpan tasnya dan meminum sebotol air yang ia bawa.
“Sekarang, ada satu hal yang membuatku bingung…” Seiji membuka percakapan baru.
“Apa itu?” tanya Hana sambil duduk di tepi kasur Seiji.
“Aku bingung menentukan siapa anggota selanjutnya…”
“Loh? Kok begitu?”
“Yang sudah kurekrut dari jauh-jauh hari baru kalian semua… aku belum merencanakan, siapa yang selanjutnya akan jadi anggota baru kita… kita kan butuh empat orang lagi…”
“Hmm, kalau begitu siapa?”
“Entahlah.. aku pun tak tahu…”
“Berarti, itu tandanya kita harus kembali mencari anggota selanjutnya? Jeez.. kau tak tahu betapa sulitnya kami memikirkan siapa orang yang cocok untuk jadi agen penyihir rahasia…”
“Yah, memang sulit.. tapi masa aku saja yang merekrut kalian sebanyak ini sendirian bisa, kalian yang merekrut empat orang saja susah apalagi dengan bersama-sama seperti ini…”
“Kau kan ahlinya, Seiji…”
“Hmm, tapi untungnya, selama beberapa hari kebelakang, tak ada vampire yang menyerang.. jadi, agak aman juga..”
“iya, untungnya begitu…”
“Ah, aku juga bingung rasanya… tak ada murid lain yang tersisa sih..”
“Kau bicara seakan-akan murid-murid lain tak berpotensi..” Hana sweatdrop.
“Hahaha, tidak, aku tak bilang begitu… kau yang bilang lho..”
“Hah, ya sudahlah…” Hana berjalan keluar ruangan. “Aku keluar sebentar, mau mencari udara segar..”
“Berarti yang menjaga mereka aku?” tanya Shujin.
“Iya lah… kau pikir siapa lagi… kali-kali gantikan aku, senpai… lagipula aku kan sudah menjaga mereka tadi..”
“Baiklah.. baiklah…”
“Aku tak akan lama kok…”
BLAM
Pintu pun tertutup. Hana pun beranjak ke depan gerbang.
~depan gerbang AWS~
Seorang anak laki-laki, berjalan dengan seramnya, sambil membawa AK-47, serta menyeringai layaknya setan, datang ke AWS dan langsung menebarkan bisikan-bisikan diantara para siswa dan siswi.
Laki-laki itu berdiri dengan gagah di depan gerbang AWS.
“Ah, jadi ini ya, Anime World School ‘Sialan’ itu? Keh, sial, ternyata tempatnya lebih baik dari yang kuduga…” pikir pria itu sambil menyeringai.
Kagami, sang ketua OSIS datang menghampiri. “Ehem! Permisi, siapa kau?”
Laki-laki itu menatap Kagami dengan pandangan tak kalah killer. “Aku Hiruma…. Aku siswa yang akan segera bersekolah ini!”
“Kalau begitu, mari ikut saya ke ruang kepala sekolah untuk menyelesaikan berkas-berkas lebih lanjut…”
“Berani kau mengaturku, hah?! Menurutmu, siapa kau ini? Dasar sok!”
“Aku ketua OSIS disini! Kau sebagai murid baru, tak sepantasnya membentakku begitu!”
TREK
Laki-laki itu menodongkan senapannya tepat ke dahi Kagami, hingga akhirnya, Kagami pun berhenti mengoceh.
“Senjata ini asli…” ujar laki-laki yang bernama Hiruma itu. “Jika kau kembali mengoceh, dan dalam hitungan 3 detik kau belum menjauh dari hadapanku, pelurunya akan mengenai kepala sialanmu itu…”
“B-baik baik! A-aku segera pergi!”
“Satu…”
“I-Iya iya!” Kagami mulai berjalan mundur.
“Dua…”
“Okay okay! Tenang!” Kagami mulai berjalan cepat menjauhi Hiruma.
“Ti—“
“Baiiik! Aku pergii!” Kagami pun berlari sekencang yang ia bisa menuju ke kelas.
“Kekekekeke!” kekehan Hiruma keluar. “Dasar ketua sialan bodoh..”

Hana yang tengah berjalan-jalan menelusuri AWS, datang dan melihat Hiruma.
“Siapa anak itu? Anak baru ya?” Hana berinisiatif menghampiri Hiruma.
Hiruma menoleh cuek pada Hana.
“Siapa kau?” tanya Hiruma ketus.
“Aku Hana… salam kenal… kau murid baru ya?” Hana tersenyum manis.
“Hiruma.. iya, aku murid baru”
“Ah, salam kenal, Hiruma-kun…”
“Hn…”
“Kau ini! Cuek sekali sih jadi orang?!”
“Lalu? Apa peduliku?”
“Huh, dasar menyebalkan…”
“Dasar cerewet..”
“Huft… err, ngomong-ngomong, kau pindahan darimana?”
“Aku dari Seika…”
“A-apa?!”
“Aku dari Seika!! Kau tuli ya?”
“Se-Seika? A-aku juga murid pindahan dari Seika!”
Hiruma sempat terbelalak. Tapi tak lama, seringainya kembali.
“Jika kita dari Seika, kenapa kita rasanya belum pernah bertemu ya?” gumam Hana sambil berpikir tentang orang-orang yang pernah ia temui di Seika.
“Dasar bodoh, Seika itu luas… muridnya juga banyak… jadi tak aneh jika kau belum pernah bertemu denganku.. tapi paling tidak, aku yakin kau pernah mendengar murid yang memecahkan rekor pembolos terbanyak, namun nilai-nilainya tetap sempurna!  Dan seorang siswa yang selalu membawa senjata kemanapun ia pergi… Kekeke…”
“Ah! Ja-jadi itu kau?! Ya ampun…” Hana sweatdrop dengan sukses.
“Kekeke, sepertinya kau kurang terkenal ya? Aku sendiri tak tahu ada wanita sialan sepertimu di Seika…”
“Wa-wanita apa? Beraninya kau menyebutku dengan embel-embel sialan!!”
“Suka-suka aku…. Mulutku ini…”
“Kauuu….”
“Sudah ya, aku harus mencari budak-budak baru agar bisa membantuku di AWS sialan ini.. kekeke…”
Hiruma pergi dengan cueknya.
Hana nampak geram. “Laki-laki ituu… akan kutunjukan padanya, bahwa ia tak boleh berbuat seenaknya!” maka Hana pergi ke ruang kepala sekolah untuk bicara dengan Seta.
~di ruang kepala sekolah~
TAP TAP TAP TAP
BRAK!
“Permisi!!” Hana datang ke ruang kepsek dengan nafas memburu.
Seta dan Arie yang sedang membicarakan proposal dan kegiatan sekolah lainnya di dalam sweatdrop.
“Ada apa Hana?” tanya Seta.
“Seta-sama, aku mau protes!” Hana langsung berjalan mendekati meja Seta.
“Protes? Soal apa?”
“Soal si anak baru dari Seika itu!!”
“Kau protes tentang dirimu sendiri?”
“Bukan akuu, tapi anak yang namanya Hiruma itu!! Mantan Setan Seika yang datang ke AWS!!”
“Oh, dia.. memang kau mau protes soal apa?”
“Kenapa kau mau memasukkan murid aneh seperti dia di AWS!!?? AWS bisa hancur kalau ada dia!!”
“Bagaimana lagi… dia menodongku dengan senjatanya, dan dia membongkar semua rahasiaku dengan buku hitam kecilnya itu… dia bilang, dia akan menyebarkan aib ku ke seluruh penjuru AWS jika ia tidak diterima disini.. maka aku tak ada pilihan..”
“Orang itu…..” Hana semakin geram.
“Sepertinya kau dendam sekali padanya..” ujar Arie.
“Aku tidak dendam, aku hanya kesal dengan sikapnya yang selalu seenaknya itu… dulu saat di Seika, aku selalu ingin tahu dia itu seperti apa dan sehebat apa… karena saat di Seika, kami tidak begitu dekat, bahkan belum kenal satu sama lain.. tapi ternyata, setelah aku kenal dia, sikapnya seperti itu.. menjengkelkan!!”
“Ya sudah, kau urus saja dia… aku sendiri angkat tangan untuk anak satu itu…” ujar Seta.
“A-apa?! Ke-kenapa kau jadi mudah menyerah begitu, Seta-sama?!”
“Tak ada pilihan lain.. rahasiaku jangan sampai ketahuan.. hahaha…”
“Oh iya, bicara soal rahasia.. apakah soal agen penyihir rahasia dan lain sebagainya, ia tahu juga?”
“Untungnya tidak.. sepertinya dia masih belum tahu apa-apa soal itu..”
“Fyuh, syukurlah… baik kalau begitu, aku permisi.. huh, kupikir kepala sekolah juga bisa membantu, ternya tidak.. huhu..”
“Yah, bagaimana lagi? Rahasia lebih penting.. hahaha….”
BLAM
Pintu pun tertutup. Dan Hana kembali ke ruang kesehatan untuk menceritakan semua yang terjadi.
~di ruang kesehatan~
“Murid baru lagi ya?” itu tanggapan pertama dari Seiji ketika mendengar cerita Hana.
“Ya, dan tak kusangka, ia bisa menaklukan ayahmu juga, Seiji..” gumam Hana.
“Hebat juga orang itu…”
“Tapi..” Inglid berkomentar. “Kalau dia sehebat itu, dalam waktu yang singkat, ia pasti bisa menguasai AWS.. dan ada kemungkinan, posisi Shujin-senpai akan tersaingi!”
“Benar juga kau!” Shujin menjetikkan jarinya. “Ah, gawat ini…”
“Kalau sudah begini, kau harus bisa lebih sangar lagi, senpai…” sindir Hana.
“Hmm, kau benar! Dia tak boleh menggantikan posisiku sebagai penguasa sekolah!” Shujin nampak menggebu-gebu—latar api yang membara dibelakang—.
“Semangat senpai!” Mizu nampak memberikan dukungan.
“Iya, kami mendukungmu!” sahut Inglid.
“Tapi hati-hati lah.. dia kan bawa senjata…” Fuji mengingatkan.
Hana melirik Seiji. Ia nampak diam sambil memandang satu cincin perak polos di tangannya.
“Ada apa Seiji?” tanya Hana.
“Aku hanya berpikir….” Jawab Seiji sambil menggantungkan kalimatnya.
“Soal?”
“Soal anggota baru..”
“Tu-tunggu! Kau tak berpikir untuk menjadikan Hiruma anggota baru kita, kan?!”
“Tapi dari ceritamu, nampaknya dia cocok..”
“T-tidak!! Aku menolak, Seiji!!”
“Kenapa? Dia pantas kok menurutku…”
“Tapi—“
BRAK!
Pintu ruang kesehatan dibuka secara keras oleh setan—ralat—Hiruma!
“Hmm, jadi ini ruang kesehatan sialan AWS.. besar juga…” ia memandang sekeliling.
Pandangannya tertuju pada anggota agen rahasia yang tengah berkumpul. Ia menyapu pandangannya sekeliling, hingga ia menangkap sosok yang familiar.
“Kau lagi.. wanita sialan yang cerewet…” Hiruma menyeringai dan beranjak masuk lebih dalam mendekati Hana.
Hingga akhirnya, mereka berhadapan satu sama lain, dengan pandangan yang tajam.
“Panggil orang dengan nama yang benar..” ujar Hana dengan penekanan nada pada kata ‘benar’.
“Suka-suka aku, gadis sialan..”
“Dan hapus embel-embel sialanmu itu!”
“Ini trade mark ku! Kau tak berhak mengaturku! Kekeke…”
“Dasar menyebalkan!”
“Ngomong-ngomong…” Hiruma melihat agen penyihir yang lain. “Apa yang kau lakukan di ruang kesehatan sialan ini dengan orang-orang sialan ini?”
“Kau tak bisa apa memanggil orang lain tanpa embel-embel sialan?!”
“Tidak bisa…”
“Dasar setan!”
“Akhirnya kau mengakui juga kalau aku setan! Kekeke…”
“Karena sifatmu memang seperti setan!”
“Kau belum menjawab pertanyaanku!”
“Hm? Oh, yeah… aku disini mau melakukan apapun, bukan urusanmu!”
Hiruma melirik ke arah Seiji dengan tatapan tajam. Begitu juga Seiji.
Suasana sangat tegang saat itu.
SRET
Tiba-tiba saja, Hiruma berbalik, dan meninggalkan ruang kesehatan dengan cuek.
BLAM
Pintu pun tertutup.

Hening….
“Jadi…” Seiji memecah kesunyian. “Dia orangnya?”
“Iya…” Hana menanggapi. “Aneh bukan?”
“Tidak…”
“Eh?”
“Justru… dia orang yang pas!”
“A-APA?!”
*sore harinya….*
~ruang klub amefuto AWS~
Hana datang ke tempat ini bukan tanpa alasan. Ia disuruh Seiji untuk memberikan cincin pada Hiruma sebagai tanda bahwa ia adalah anggota baru. Dan kenapa harus Hana? Karena Hana lah yang dianggap untuk saat ini paling dekat dengan Hiruma.
“Huh, Seiji bikin repot saja!” Hana sudah memajukan bibirnya lurus-lurus ke depan. Sebal. “Dan kalau dipikir, kenapa Hiruma mengambil amefuto untuk dijadikan kegiatan ekstra kurikuler pilihannya? Hmm, mungkin dia terbiasa bermain amefuto sejak di Seika…”
CKLEK
Hiruma membuka pintu masuk ruang klub nya.
Ia menangkap sosok Hana tepat di depannya.
“Mau apa kau, gadis cerewet?”
“Jangan panggil aku begitu!”
“Sebaiknya kau cepat, karena aku hanya ada waktu lima menit sebelum kembali ke asrama..”
“Aku hanya mau memberimu ini!”
Hana menyodorkan cincin perak polos pada Hiruma. Hiruma menyeringai.
“Hoo, jadi kau berusaha menyatakan cinta sejak pada pandangan pertama ya, hah?”
“A-apa katamu?! Tidak bodoh!! Aku disuruh memberikan cincin ini padamu oleh temanku! Katanya sebagai ucapan selamat datang di AWS!”
“Hmm, ucapan selamat datang ya…” ia berpikir sok serius.
“Ke-kenapa?”
“Yah, jika kau ingin aku menerima cincin sialan itu, ada syaratnya!”
“Kupenuhi, apapun syaratnya!”
“Kekekek… kau yakin?”
Hana mengangguk mantap. Demi masa depan AWS, tak apalah.
“Baiklah kalau begitu…” Hiruma menyeringai semakin lebar. “Berhubung aku langsung diangkat menjadi kapten sialan di klub sialan ini, aku berpikir untuk merekrut seorang manajer agar bisa membantu dalam hal bersih-bersih dan mengatur strategi..”
“Kau mau aku mencarikan manajer untuk tim amefuto mu?”
“Tadinya begitu… tapi…”
“Tapi?”
“Tapi untuk apa repot-repot mencari lagi, jika sudah ada di depan mata? Kekeke…”
“A-apa?! A-aku jadi manajer?!”
“Kenapa? Tak berminat? Yah, buatku tak masalah… tapi dengan catatan, cincin sialan itu tak kuterima.. kekeke…”
“Huh, kau ini….”
Hana nampak menimbang-nimbang keputusannya. Iya atau tidak?
“Bagaimana? Waktu kita untuk bicara tinggal satu menit!” ujar Hiruma dengan seringai.
“Errr… emm.. i-iya! Baiklah! Aku mau jadi manager tim mu!”
“Kekekek! Bagus!”
Hiruma mengambil cincinnya dan ia masukan ke saku celana. Lalu pergi begitu saja sebelum menoleh ke arah Hana dan mengucapkan, “Besok pagi kita latihan.. jangan sampai terlambat, ‘Manajer Sialan’..”
Hana terduduk lemas diatas tanah.
“Arrrggh!! Kenapa aku harus mau menjadi manajernyaaa?! Huh, menyedihkan…” Hana meratapi nasibnya di sore hari, sebelum akhirnya kembali ke kamar.
*sementara itu….*
~kerajaan Nowheresville~
“BODOH!!!” teriakan Yogi menggema di seluruh penjuru kerajaan. “Bagaimana mungkin kau bisa kalah dengan para penyihir tengil seperti mereka, hah?!”
“M-maafkan saya, raja!” Dira nampak takut-takut menjawab.
“Baiklah kalau begitu…” Yogi nampak berjalan ke kiri dan ke kanan seperti setrikaan. Memikirkan sebuah strategi. “Dira!”
“I-iya, raja?”
“Kau kembali saja ke tempatmu, dan mantapkan kembali kekuatanmu, dan buat senjata yang lebih kuat dibanding alat pencabut rumput liar itu! Mengerti kau?! Cepat pergi!!”
“B-baik raja!”
Maka Dira pun pergi meninggalkan istana kembali ke ruangannya.
“Huh, bahkan patih terkuat ayah pun tak sanggup mengalahkan mereka.. “ cibir Ochi.
“Diam!!” bentak Yogi. Ochi langsung tutup mulut.
“Suamiku, kau tak boleh marah-marah begitu…” Kaori nampak memijat bahu Yogi perlahan.
“Habisnya… punya patih tapi tak ada gunanya sama sekali.. kurang ajar dia!!”
“Sudah kubilang, sebaiknya kita yang turun tangan…”
“Tidak… jangan dulu..”
“Kenapa? Bukankah lebih cepat lebih baik?”
“Iya.. tapi aku kan sudah bilang padamu, kita lihat perkembangan anggota kerajaan yang lain.. dan aku rasa, aku tahu siapa yang cocok untuk operasi penghancuran kali ini…”
“Siapa?”
“Prem!! Kemari kau!!”
Seorang vampire dengan membawa sebuah buku besar berlambangkan lambang setan datang.
“Ada apa raja?” suaranya yang berat keluar.
“Aku mengutusmu kali ini.. untuk menghancurkan AWS…”
“Baik raja.. perlukah ku sediakan pasukan?”
“Terserah padamu, yang jelas cepat laksanakan!”
“Baiklah…”
Vampire itu pun tiba-tiba lenyap perlahan.
“Yah, boleh kuakui, yang satu ini juga cukup menyeramkan…” gumam Ochi.
~kamar Hana~pkl. 21.30~
Baru saja Hana terduduk di kasurnya, dan bersiap untuk membaringkan dirinya di tempat tidur—
BRAK
—pintu lagi-lagi di dobrak oleh Seiji yang terlihat sudah pulih seperti biasa.
“Datang lagi kah?” tanya Hana.
“Begitulah..” Seiji menjawab sambil tersenyum.
“Ah, baru saja aku mau tidur…”
“Tempatnya biasa…”
“Depan gerbang lagi? Keh, vampire-vampire itu memang sopan.. hahaha…”
“Ya sudah, ayo cepat..”
“Hn..”
Mereka berdua pun langsung pergi menuju gerbang depan.
*sementara itu…*
~kamar Hiruma~
Hiruma tengah mengelap senjata-senjatanya dengan damai. Hingga ia mendengar suara bising diluar. Seperti orang yang sedang berlarian.
Ia pun mengambil AK-47 nya, dan tak lupa mengunyah permen karet yang biasa ia makan, lalu menuju keluar kamar.
CKLEK
Begitu membuka pintu, ia melihat Fuji tengah berlari menuruni tangga. Maka ia pun memutuskan mengikutinya.
~depan gerbang AWS~
Hana dan Seiji sampai lebih dulu, dan terlihat mereka berdua sudah berubah.
“Mana vampire nya?” tanya Hana bersiap dengan tongkatnya.
“Sepertinya sebentar lagi datang….”
“Kau tahu Seiji? Padahal ada baiknya kau tidak ikut bertarung dulu… kau kan baru sembuh…”
“Kau khawatir padaku? Oh, terima kasih…”
“W-wajar bukan? Kita kan teman!”
“Kalau lebih dari teman?”
“D-diam kamu! Jangan bicara macam-macam!”
Terlihat dari jauh, penyihir yang lain datang dan sudah berubah juga.
“Bagaimana?” tanya Fuji.
“Belum…” sahut Seiji.
“Lihat!” Shujin menunjuk ke depan. Terlihat seorang vampire dengan membawa buku besar datang. Ia berjalan dengan damai dan perlahan.
“Vampire nya baru lagi…” gumam Inglid.
“Dan kali ini hanya seorang…” Mizu menambahkan.
“Tingkatkan kewaspadaan…” Hana mengingatkan.
Nampak Hiruma dari jauh masih memperhatikan.
“Itu si Manajer Sialan kan?” gumam Hiruma menganalisa keadaan.
Sang vampire, Prem, akhirnya datang. Ia menghadap seluruh agen penyihir dengan tatapan seram.
“Jadi ini, utusan dewa yang bertugas untuk memusnahkan kami para utusan setan..” gumam Prem sambil membuka bukunya.
“Ada apa dengan vampire ini?” Shujin sweatdrop.
“Sepertinya dia vampire yang religius..” pikir Seiji.
“Memang ada ya, vampire mengerti agama?” Hana sweatdrop juga.
“Tak kusangka…” Prem mealnjutkan kata-kata anehnya. “Dewa mengutus anak kecil untuk menghancurkan kami… dari dulu, Dewa memang tak pernah adil…”
“Apa yang kau biarakan?” tanya Mizu bingung.
“Alasanku kemari, untuk menguasai gedung ini, sebagai tempat kami, para pemuja setan..” lanjut Prem yang tak menghiraukan pertanyaan Mizu.
“Tak akan kubiarkan!!” Shujin maju dengan tongkat dan tamengnya.
Prem tetap diam di tempat, sambil membuka bukunya, dan mengucap beberapa mantra aneh.
“Hiyaaah!” Shujin hendak menembakan lasernya ke arah Prem, namun…
“Ooo, darle este hombre la pena, dar muerte a su guardaespaldas…” Prem mengucapkan mantra-mantra yang tak dimengerti.
Laser yang sudah meluncur dari tongkat Shujin, tertahan oleh pelindung tak terlihat yang melindungi seluruh area di sekitar Prem! Dan lasernya malah berbalik mengarah pada Shujin!
BLEDAR!!
“GAAH!”
BRUK!
Shujin terkapar di tanah akibat terkena serangannya sendiri!
“Senpai!!” Hana nampak panik. “Sial, kekuatan dia berasal dari buku religinya itu!”
“Aku tak akan kalah!!” Inglid melemparkan tongkatnya ke atas . “Henge!”
BOFT
Tongkatnya berubah menjadi pedang yang panjang. “Fuji, ayo!!”
“Hmph!” Fuji mengangguk mantap, dan bergerak cepat bersama Inglid untuk menyerang Prem dari dua sisi yang berbeda!
Inglid sebelah kanan, dan Fuji sebelah kiri.
Namun, ketika pedang tersebut hampir mengenai Prem, ia mengucap mantra lagi.
“Man xosuna gelir size o, olum bu mexluq vermak…”
TRING TRING TRING TRING
Banyak butiran-butiran kecil berwarna merah tiba-tiba turun dari langit, menghujani Fuji dan Inglid.
“A-apa ini!” Inglid nampak panik.
“Apapun ini, cepat tebas dia!!” perintah Fuji.
Maka, kedua pedang itu hampir mengenai Prem ketika—
PSSSH…
DUAR DUAR DUAR DUAR!
—kilauan-kilauan itu akhirnya berubah menjadi ledakan-ledakan bola api!!
“Aaah!!”
BRUK!
Inglid dan Fuji ambruk…
“Sial, jarak jauh tak bisa, jarak dekat juga tak bisa…” Seiji nampak berpikir serius.
“Kita harus bagaimana Seiji?” tanya Hana panik.
“Sulit juga…” gumam Mizu.
Prem kembali membuka halaman buku yang selanjutnya.
“Ia akan membaca mantra lagi! Semuanya, mundur!” Seiji memberi komando.
Hana dan Mizu melompat mundur sejauh mungkin, namun—
“Size qersi olmus, onlara olum ver…”
—tangan-tangan berwarna hitam pekat keunguan, muncul dari dalam tanah dan mencekik Mizu, Hana, juga Seiji.
Mereka bertiga mencoba melepaskan diri, namun tetap tak bisa. Cekikannya semakin menguat.
“Aaagghh… ke-kenapa aku.. harus… dicekik lagi…” rintih Mizu.
“S-siaaal….” Hana terus mencoba melepaskan cekikannya.
“Kita… belum memberikan… per…lawanan… sedikit pun…” Seiji juga nampak mulai sulit bernafas.
~di markas~
“Bagaimana ini?” Arie nampak cemas. “Ayo, kita bantu mereka!”
“Tidak, tunggu dulu…” Seta menahan Arie.
“Kenapa? Mereka bisa mati!”
“Kita lihat saja…”
“A-apa?!”
~depan gerbang AWS~
Hiruma yang tengah mengintip pertarungan memberanikan diri memakaikan cincin pemberian Hana di jarinya. “Tak ada pilihan…” Hiruma mempersiapkan senjatanya.
Ia pun berlari ke arah pertempuran.
TREK
ia membidik dengan AK-47 nya dari kejauhan, sementara cahaya dari cincinnya yang berwarna merah dan hitam terus menyelimutinya. Ia pun mulai menarik pelatuk senapannya. Hingga..
PSYUU….
“Ring!! Blow up!!”
DUAR!!!
“Gaah!!”
BRUK!
Peluru AK-47 nya tepat mengenai buku religi Prem, dan buku itu terpental, hingga Prem sendiri juga sempat terjatuh. Dan seiring dengan meluncurnya peluru tadi, Hiruma meneriakan kalimat sakral penyihir itu, dan akhirnya berubah!
Ia memakai kostum ala vampire yang tak jauh berbeda dengan Prem, hanya saja, bedanya Hiruma tak memiliki ekor setan seperti Prem.
Dan senjata Hiruma bukanlah tongkat, melainkan bazoka yang luar biasa besar yang bercabang. Dengan kata lain, dalam bazoka tersebut terdapat ratusan senjata lain seperti pistol, AK-47, M-16, dan senjata api lainnya.
Tangan yang mencekik Hana, Seiji, dan Mizu mulai terlepas.
Fuji, Inglid, dan Shujin juga perlahan mulai bangkit kembali.
“Kekekekke, tak kusangka jadinya keren begini…” ujar Hiruma bangga dengan penampilannya.
“Pakaiannya ‘wah’ sekali…” Hana sweatdrop.
“Dia anggota yang sesuatu..” pikir Inglid yang mulai meniru gaya artis Indonesia, Syahrini.
“Dia bukan manusia..” celetuk Seiji.
Hiruma menyeringai lebar, sementara Prem bangkit kembali dengan bukunya.
“Kau telah merusak pedoman pujaan kami…” sahut Prem dengan aura membunuh.
“Kau pikir aku peduli? Aku juga setan, dan aku tak pernah tuh membaca buku sialan itu… sebagai sesama jenis, kita harus sepakat dalam mengambil pedoman hidup bukan?” ucap Hiruma dengan seringai yang tak hilang.
“Ya.. dan mari selesaikan ini… sesuai ajaran masing-masing…”
Prem membuka halaman demi halaman bukunya dengan cepat. “Bu xeyenetkar dacehennem istilik ver…”
PSYUUU….
Sebuah bola api raksasa menggumpal dengan panasnya di hadapan Hiruma.
“Kekekek, bagus juga…” Hiruma menodongkan bazokanya yang kemudian mengeluarkan 50 flame yang bercabang dari bazokanya.
Penyihir lain hanya sweatdrop.
Hiruma pun menarik pelatuk nya, dan…
PSYUUU….
Bola api yang juga tak kalah besar dan panas keluar dari senjata apinya!
Hingga akhirnya, kedua bola api itu saling beradu! Sengit sekali!
Namun sayangnya, seiring dengan mantra yang terus dibacakan Prem, ukuran bola api Hiruma tak mampu menandinginya!
“Siall…” Hiruma terus berusaha mendorong dan memperkuat bola api dari flame dan bazokanya.
“Kita bantu!!” Seiji memberi komando.
Semua mengangguk mantap.
“Henge!” ucap Inglid yang kemudian pedangnya berubah menjadi tongkat.
Fuji mengarahkan berlian yang ada pada pedangnya yang bisa mengeluarkan laser berwarna hitam.
“Semuanya…” Seiji memberi aba-aba. “TEMBAAAK!”
PSYUU~
Seluruh warna laser dari penyihir lain, membantu bola api Hiruma mendorong kuat bola api Prem!
Hingga jadi besar, besar, dan semakiiiiin membesar, dan juga berwarna warni namun panasnya bagai sepanas api neraka!
PSYUUUU~
BLEDAR!
Ledakan dahsyat terjadi ketika bola api Prem kalah, dan bola api para penyihir meledak luar biasa!
“Sial… sang pujaan akan menghukum kaliaaan!!!”  Prem pun lenyap, dengan kata lain, berhasil menghilang dan lolos.
Hasil ledakan tersebut berubah menjadi serpihan-serpihan cahaya berwarna-warni yang seakan turun dari langit.
“Fyuh…” Hiruma menghela nafas. “Tak kusangka, aku punya kekuatan sekeren ini.. kekekek…”
“Kau jangan sampai menyalah gunakannya, Hiruma!” Hana memperingatkan. “Dan ingat, ini adalah rahasia!”
“Iya, iya, cerewet sekali kau, Manajer Sialan!”
“Aku punya nama! Jangan panggil aku begitu!”
“Manajer?” pikir Inglid bingung.
“Ya, gadis cerewet ini akan menjadi Manajer Sialan di tim amefutoku mulai besok pagi…” jelas Hiruma yang tak lupa dengan kekehan.
“APA?!?” yang lain hanya bisa kaget.
“Bodoh! Kenapa kau mau? Kalau begitu caranya, waktu kita untuk mendiskusikan strategi penyerangan vampire bisa berkurang!” Seiji membentak habis-habisan.
“Tapi Seiji, jika tidak begitu, ia tak akan mau jadi anggota kita!” jelas Hana panik.
“Dasar setan banyak maunya!” cibir Seiji.
“Kekekeke….” Hiruma hanya terkekeh.
Malam itu pertarungan berakhir dengan perdebatan singkat antara Hana, Seiji, dan Hiruma.
~*TO BE CONTINUED*~
.
Keep Spirit Up!
Hana-chan

0 komentar:

Posting Komentar