K-On Ritsu Tainaka

Welcome

Semoga semua informasi yang saya berikan, bisa bermanfaat untuk kita bersama...

Ganbatte ne~

I Will Always Protect You

Jumat, 02 Maret 2012

moshi-moshi, Hana kali ini mempublish beberapa episode cerita yang didedikasikan untuk sebuah grup di facebook, yaitu Anime World School.
Pemeran-pemeran yang terdapat dalam kisah ini, adalah nick name dari para anggota grup. Dan cerita ini dibuat oleh saya, dengan nick name 'Hana' disini.
Termasuk kisah dan alurnya, semua request dari para anggota grup. Dan apabila kisah ini akan anda pakai, harap cantumkan situs ini. Terima kasih, dan selamat membaca..
.
~*Hana-chan Proudly Presents*~
~* A Random Anime Fanfiction*~
~*I Will Always Protect You By Hana-chan*~
~*Rated: T semi M <gore and slight lemon!>*~
~*Genre(s): Adventure, Drama, Fantasy, Friendship, Humor, (slight) Horror, Hurt/Comfort, Mystery, Parody, Romance, Spiritual, Supernatural, Tragedy*~
~*warning! Gaje, abal-abal, typo bertebaran layaknya bintang di langit (?), isinya campur-campur kaya gado-gado (?), OOC sangat, OC, slight yaoi and yuri*~
.
~pagi hari~kamar Hana~pkl. 08.00~
“Nggh...” Hana terbangun dari tidurnya. Ia terduduk di atas kasurnya sejenak.
“Semalam itu seperti mimpi...” gumamnya.
Ia menggosok kedua matanya dan menoleh ke arah jam di meja belajarnya.
“JAM DELAPAN?! AKU TERLAMBAT!!!” maka cepat-cepat ia mengganti bajunya dengan seragam secara asal, dan segera merapikan rambutnya. Setelah ia selesai menyiapkan jadwal pelajaran, ia gendong tasnya dan segera membuka pintu kamarnya.
CKLEK
BRUK!
“Awww...” tak lama setelah membuka pintu, ia menabrak seseorang yang berdiri tepat di depan pintu kamarnya.
Hana menoleh ke arah orang itu. “Seiji?! Apa yang kau lakukan disini?! Pelajaran sudah dimulai!”
Seiji tetap diam. Hana pun beranjak berdiri.
“Apa yang kau lihat hah?” bentak Hana.
“.....” Seiji tetap diam saja.
“Katakan sesuatu, atau kau sebaiknya menyingkir!”
“.....”
“Seiji—“
“Kau...”
“Eh? Kenapa?”
“Kau sudah gila ya?”
“A-apa?!”
“Kau yakin akan ke kelas dengan penampilan begitu?”
“He?”
Hana melirik seluruh penampilan tubuhnya dari atas hingga bawah.
Rambut rapi, seragam sudah, tas sudah..
Apa yang kurang?
Namun setelah ia telaah lebih dalam...
“Sepatukuuuu!!” Hana menjerit ketika sepatunya berbeda sebelah. Kaki kiri memakai sandal tidur, dan kaki kanan sandal jepit—dengan merek sw*ll*w—. “Bodohnya akuuu!!”
BRAK!
Ia langsung masuk ke dalam kamar, dan mengganti sepatunya.
Seiji hanya tersenyum maklum.
*kemudian...*
Hana kembali keluar kamar, dan ia lihat masih ada Seiji di depan pintu kamarnya. ‘Tak ada bosan-bosannya dia beridiri di tempat ini...’ batin Hana.
“Kau tidak ke kelas?” tanya Hana.
“Semua kelas diliburkan...” jawab Seiji.
“Eh? Kenapa?”
“Akibat insiden di atas atap kemarin malam, beberapa kelas 1, 2, 3, dan ruang guru rusak.. atap sekolah juga sedang dalam perbaikan... jadi, maka dari itu aku tidak ke kelas...”
“Tahu begitu aku tak usah capek-capek mengganti sepatuku lagi!!”
“Salah sendiri, kenapa kau mau mengikuti kata-kataku...”
“Diam kau! Huh, tahu begini aku sempat mandi tadi...”
“Jadi kau belum mandi?”
“Mana sempat! Aku sudah sangat terlambat!”
“Bukankah aku sempat menyuruhmu tadi malam untuk tidak ikut pelajaran dulu?”
“Aku berubah pikiran... aku tak ingin ketinggalan pelajaran...”
“Kalau begitu, mandilah dulu... lagi pula, kita sedang bebas kan?”
“Kau benar... sebaiknya kau jangan coba-coba masuk ke dalam kamarku selagi aku mandi!”
“Jika dalam lima menit tidak keluar, aku tak menjamin...” ia menyeringai.
“Dasar kurang ajar!”
BRAK
Hana kembali menutup pintu kamarnya dan bergegas mandi dengan kecepatan kilat.
*6 menit kemudian...*
Hana segera mengakhiri mandinya, dan memakai handuknya. Ia sempat mengeringkan rambutnya terlebih dahulu di kamar mandi sebelum akhirnya benar-benar keluar.
CKLEK
Ia membuka pintu kamar mandi. “Fyuh... segarnya...”
...
“Kau terlalu lama satu menit...”
“S-SEIJII?!?”
BLUSHED!
“B-bodoh, apa yang kau lakukan disini?!”
“Sudah kubilang bukan? Terlambat dari lima menit, aku tak menjamin janjiku...”
“A-aku pikir kau hanya bercanda!! P-pergi kau!!”
“Tidak akan...”
GREP
BRUK
Seiji mendorong tubuh Hana ke dinding dan menggenggam kedua bahunya dengan erat. “You know, Hana?”
“Eh?”
Wajah Hana semakin memerah.
With this kind of cloth you wore...it makes me... turned on...”
YOU JERK!!!”
Hana menarik kerah baju Seiji, dan melempar Seiji hingga—
BRAK!
—ia terlempar keluar kamar dan pintu pun hancur berkeping-keping.
“Hah...hah...hah... pergi kau, brengsek!! Dasar pervert!!”
“Sakit tahu...” Seiji memasang wajah tanpa dosa.
“Deritamu!!”
BRAK!
Hana langsung mengambil baju gantinya dan menutup pintu kamar mandi untuk mengganti baju.
Seiji tersenyum kecil. “She’s incredible...”
Seiji melirik ke arah celananya. “Hey, sudah.. tak usah membesar begitu..”. *author mimisan*
*kemudian...*
Inglid, Mizu, Seiji, Hana, dan Puti pergi ke taman belakang sekolah untuk sekedar berjalan-jalan bersama.
Terlihat dengan jelas kemesraan antara Seiji dan Puti. Tapi bisa dibilang, Puti terlihat sedikit lebih agresif.
“Seiji sayang...” ujar Puti dengan nada manja.
“Hm?” Seiji menanggapi.
“Seandainya saja kita bisa berkencan selain diluar asrama ini, aku pasti akan sangat senaaang sekali...”
“Tapi kan kita tak bisa keluar.. sekali sudah menetap disini, tetap disini..”
“Iya, tapi kau kan anak kepala sekolah... jadi... umm....”
“Hm?”
“Bisakah kau minta pada papamu hanya untuk kitaaa saja, bisa pergi keluar meski hanya satu hari!”
Seiji mendengus pelan. “Tak bisa, Puti.. ini sudah peraturan sekolah, aku juga siswa disini. Sekali pun aku anak kepala sekolah, aku tak boleh melanggar aturan...”
“Aaah, aku ingin keluar sayang!”
“Tak bisa... kau tak boleh seenaknya...”
“Tapi—“
“Sudah cukup, Puti!”
Puti pun terdiam. Perkataan Seiji agak membentak tadi. Inglid, Mizu, dan Hana juga sempat terbelalak.
Seiji menghela nafas pelan. “Maaf Put.. aku tak bermaksud...”
“Tak apa...” Puti hanya tertunduk. Mungkin ia juga menyadari bahwa ia terlalu berlebihan.
PUK
Seiji menepuk kepala Puti. Puti menoleh.
“Maaf ya, aku tak bermaksud membentakmu...” Seiji tersenyum.
Puti kembali tersenyum juga.
Hana hanya memperhatikan. Melihat Puti diperlakukan seperti itu, ia serasa teringat kembali saat Seiji menepuk kepalanya di taman ini.
Perasaan aneh datang menghampiri.
‘Kenapa aku ini? Kenapa aku iri? Ah, Hana bodoh.. jangan hiraukan si pervert itu!’ batin Hana dengan wajah yang agak memerah.
Inglid dan Mizu yang menyadari hal itu bertanya.
“Kau kenapa, Hana?” tanya Inglid.
“A-apa?” Hana tersontak kaget.
“Kau kenapa? Wajahmu memerah.. kau sakit?” tanya Mizu.
“T-tidak, aku tidak apa-apa! Hahaha...”
Seiji sempat melirik ke arah Hana ketika Hana pergi meninggalkannya berdua dengan Puti di taman itu.
*lalu....*
~gerbang AWS~
Hana bersender tepat di pagar gerbang. Mizu naik ke atas pagar, dan duduk di atas pintu gerbang. Sedangkan Inglid duduk di bangku dekat sana.
“Hah...” Hana menghela nafas pelan.
“Kau kenapa? Kau terlihat agak tidak bersemangat...” ujar Mizu sambil memainkan kakinya.
“Aku tidak apa-apa...” sahut Hana muram.
“Kau sepertinya kelelahan...” pikir Inglid dengan wajah khawatir.
“Yah, sepertinya begitu...” Hana tersenyum kecil.
“Atau jangan-jangan...” Inglid tersenyum jahil. “Kau cemburu gara-gara melihat Seiji dengan Puti tadi ya?”
“A-apa?” wajah Hana memerah. “A-aku tidak cemburu! Siapa yang cemburu? Huh, tak ada gunanya juga cemburu pada orang itu!”
“Jangan begitu, bisa-bisa kau semakin menyukainya lho, Hana...” Mizu ikut mengompori.
“A-aku sudah bilang, aku tak cemburu! Huh!” wajah Hana sudah semerah tomat sekarang.
“Iya, iya, kami hanya bercanda...” Inglid pun tertawa dengan puas.
“Dasar kalian ini...” Hana tersenyum. ‘Tapi... ini bukan perasaan suka... ini juga bukan perasaan sakit... perasaan yang janggal.. yang aku pun tak tahu apa...’ Hana membatin.
“Tch...”
*sementara itu....*
~kerajaan Nowheresville~
Ochi berlari sambil terisak dengan pakaian yang lusuh dan rambut yang acak-acakan.
Semalam setelah pertarungan, ia pulang lalu ke kamarnya kemudian menumpahkan air matanya sebanyak mungkin. Dan baru hari ini ia sempat menemui kedua orang tuanya lagi.
“Ibuuuu.....” Ochi berlari menghampiri ibunya.
“Ochi?! Ya ampun, kau kenapa?! Apa yang terjadi dengan pakaianmu!?” Kaori memeluk Ochi erat. Dan Ochi masih terisak.
“Ibuuu.. pa-pangeranku... d-dia... dia sudah.. menghianatikuuuuu! Huwaaaa!”
“Sudah...sudah...” Kaori mengelus rambut Ochi pelan. “Kalau begitu, kita beri dia dan gadis selingkuhannya pelajaran! Bagaimana?”
“Tapi... hiks... b-bagaimana? Hiks...”
“Kau kan punya pesuruh, apa gunanya memiliki dia?”
“Ah, benar juga!”
Ochi melepaskan pelukannya. “Anchi!!”
Seorang vampire dengan menggunakan jubah berwarna ungu gelap sambil membawa setangkai bunga mawar datang ke ruangan. “Iya, nona?”
“AnchI! Aku minta, kau hancurkan sekolah bernama AWS, dan cari seorang siswa yang bernama Seiji! Bawa dia kemari! Dan satu lagi, bunuh seorang gadis..yang bernama Hana...”
“Baik, nona...”
Anchi tersenyum sinis, dan segera melangkah keluar istana, dan mempersiapkan pasukan.
~asrama AWS~koridor siswi kelas 2~
Hana berjalan seorang diri untuk menenangkan pikirannya dari semua beban. Sekalian, ia juga ingin beristirahat di kamarnya.
Selang dalam perjalanan, Shujin, sang kepala geng kelas tiga datang menghampiri.
“Ah, ketemu juga kau!” sahutnya smabil menghadang Hana.
“Apa?” ujar Hana datar.
“Kau belum membayar pajakmu! Cepat bayar, siswa yang sok sekali kau!
“Kau yang sok! Jangan mentang-mentang kau ini senior, bukan berarti kau boleh seenaknya disini! Kau tetap harus mengikuti aturan!”
“Aku tak peduli! Yang penting, aku bisa mendapatkan apa yang seharusnya jadi milikku!”
“Menagih pajak yang konyol kepada tiap murid menurutmu hak mu? Kau salah besar!”
“Jangan sok berani! Disini hanya ada kau dan aku! Jika kau berani, kau tak lama lagi akan ada di UKS!”
“Silahkan, aku tak takut!”
...
“Berhenti berkelahi!!” seorang siswi berkacamata, dengan pakaian rapi, berambut pendek sebahu, dan berdiri gagah dengan melipat tangannya di depan dada menengahi.
“Tch, kau lagi...” Shujin nampak kesal.
”Harus berapa kali kuperingatkan, Shujin?! Berhenti menagih pajak!! Sudah berapa banyak surat peringatan yang harus pihak OSIS buat untuk menegurmu, hah?!”
“Semuanya sudah kukumpulkan, dan kususun hingga menjadi sebuah piramid yang indah...”
“Beraninya kau!? Cepat kembali ke koridormu!! Sekolah dalam keadaan bebas, bukan berarti kau juga tetap bisa bebas dan seenaknya! Aku akan membuatkan SP lagi untukmu!”
“Silahkan saja, jika kau tak bosan...”
Shujin pergi meninggalkan koridir dengan dengan perasaan malas.
Wanita itu menoleh ke arah Hana.
“Kau tak apa?” tanya wanita itu.
“Iya, terima kasih...” sahut Hana dengan senyum.
“Harap dimaklum ya? Pihak OSIS saja sudah lelah mengurus dia...”
“Oh iya, kau... siapa?”
“Aku Furaowari Yagami Kagamine! Ketua OSIS di AWS! Salam kenal!”
“Aku Hana... Mayonaka Hanabi... salam kenal..”
“Oh, kau murid baru itu ya? Kalau kau butuh bantuan, atau didesak oleh laki-laki itu lagi, bilang saja padaku! Aku akan membantumu!”
“Terima kasih.. umm.. Kagami..”
“Kagami?”
“Namamu kan ada Kagamine nya! Ku potong saja untuk panggilan jadi Kagami!” Hana nyengir.
Kagami sweatdrop.
“Err... ya, terserah kau lah.. eemm, sebaiknya aku pergi, masih banyak yang kukerjakan! Sampai jumpa, Hana!”
“Iya!”
Kagami pun pergi dengan terburu-buru, dan Hana kembali ke kamarnya.
~malam harinya~pkl. 20.30~
Hana tengah membereskan tempat tidurnya untuk bersiap tidur. Dan dalam keadaan damai tersebut—
BRAK
—Seiji kembali mendobrak pintu yang sudah diperbaiki.
“Seiji!! Sudah kubilang, jangan pernah kemari lagi, dasar pervert!!”
“Tak ada waktu, cepat ikut aku!!”
Seiji menarik tangan Hana, dan membawa Hana ke ruang kepala sekolah.
~di markas~
BRAK
Seiji mendobrak pintu lagi.
‘Pria ini senang mendobrak sepertinya..’ batin hana sweatdrop.
“Kau seharusnya bisa lebih cepat lagi...” ujar Seta.
“Maaf ayah..” seiji menyesal.
“ada apa lagi? Apa ada vampire menyerang lagi?” tanya Hana to the point.
“Seperti yang kau lihat...” Arie menunjuk ke arah layar. “Jumlah vampire nya kali ini lebih banyak.. mungkin ada ribuan... dan sepertinya, merelka sedang menuju ke arah depan gerbang...”
Seta memindahkan sudut pandang layar ke depan gerbang.
“I-itu kan...” Hana terbelalak melihat Mizu dan Fuji di depan gerbang. “Apa yang mereka lakukan disana? Berbahaya!! Aku harus memepringatkannya sebelum terlambat!!” Hana lari ke depan gerbang sebelum sempat dicegah.
“anak itu merepotkan saja...” Seiji memasang tampang malas.
“Seiji, cepat bantu dia! Dan jangan lupa, bawa cincinnya!” ujar Seta.
“Baik!”
Seiji pun bergegas lari ke depan gerbang.
“apa kali ini, tidak apa-apa kita tak ikut campur?” tanya Arie.
“Aku ingin menguji kekuatannya. Kita lihat seberapa kompaknya mereka hingga saat ini...” Seta tersenyum misterius.
~di depan gerbang~
Mizu nampak menunduk dengan wajah yang memerah. Sedangkan Fuji tetap diam dan memasang wajah datar.
“Jadi.. bagaimana?” tanya Fuji.
“A-aku... aku tidak tahu...” gumam Mizu.
“Terimalah permintaan maafku... aku mungkin sedikit terbawa emosi kemarin...” Fuji menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Tapi... hatiku terlanjur sakit mendengarnya, Fuji...”
“Aku...a-aku.. aku sebenarnya tak begitu terganggu dengan keberadaanmu di sekitarku, Mizu...”
“Lalu.. kenapa kemarin kau—“
“Aku sebenarnya ingin mengatakan sesuatu padamu.. sesuatu yang sangat penting.. tapi aku tetap tak sanggup, dan akhirnya malah begitu...”
“Jadi,kau sebenarnya ingin apa?”
“Aku ingin.. kau—“
TAP TAP TAP TAP TAP
“Mizu!! Fuji!!” hana berteriak dari jauh yang otomatis merusak suasana.
“Hana?” Mizu heran.
“Hah...hah...Hah...” Hana nampak lelah.
“Kenapa kau?” tanya Fuji kesal.
“Untung aku tepat waktu! Cepat kalian ke dalam asrama sebelum terlambat!!” ujar Hana panik.
“a-ada apa?!” Mizu nampak ikut panik.
“Tidak waktu untuk menjelaskan, cepat ke asrama!!”
“Tapi—“
...
“Oooh, jadi ini AWS itu?”
Sebuah suara mengagetkan Hana, Fuji, dan Mizu.
“Sial, aku terlambat...” gumam Hana.
Mizu nampak kaget, dan ia mundur beberapa langkah. Tak percaya dengan apa yang ia lihat.
“M-mereka... siapa?” tanya Mizu.
“Mereka vampire!” jawab Hana.
“Mizu, cepat kita pergi!” ujar Fuji tegas.
Namun Mizu tetap diam di tempat. Ia benar-benar shock. Tak percaya bahwa hal seperti ini benar-benar ada.
“Cepat Fuji, Mizu! Kalian pergi dari sini!” Hana mulai bersiap berubah.
“Ayo Mizu!” Fuji menggenggam tangan Mizu erat.
“Tunggu!!” Anchi mulai berbicara. “Laki-laki itu... apa kau Seiji?!”
“hah?” Fuji heran. “Aku Fuji, bukan Seiji!”
“Oh, ternyata salah orang... supaya tak tertukar dengan orang yang sama, sebaiknya kau menyingkir... hehehe..”
PSYUUU
CLEB!
“Gah!!”
“FUJI!!” Mizu berteriak ketika ia melihat Fuji ditusuk dengan lemparan setangkai mawar.
Mizu segera mencabut mawar itu, dan terlihat tetesan berwarna ungu di bawah tangkainya. “Ini racun...”
“Kurang ajar kau!” Hana emgacungkan cincinnya ke langit. “Ring! Blow up!!”
Dan Hana pun berubah!
Mizu terbelalak ketika melihat Hana dengan pakaian seperti itu.
“Ha-Hana...kau...”
“Mizu! Cepat bawa Fuji pergi dari sini!” tegas Hana dan bersiap dengan tongkatnya.
“Aku tak bisa! Ia terlalu berat!”
....
“Ring! Blow up!!”
Seiji pun datang dengan tampilan yang sudah berubah.
“S-Seiji juga?” Mizu terbelalak kaget.
“Ah, benar juga, Mizu, cepat ambil ini!” Seiji memberikan dua cincin perak polos pada Mizu. Mizu menerimanya dengan bingung. “Kau pakai jika sudah waktunya! Dan berikan juga satu lagi pada Fuji nanti!”
“U-untuk apa?” Mizu nampak kebingungan.
“Itu akan kujelaskan nanti! Sekarang, bagaimana pun caranya, bawa Fuji pergi dari sini!”
“B-baik!”
Maka Mizu mulai mencari cara untuk membawa Fuji ke asrama.
“Jadi, apa kau seiji?” tanya Anchi kali ini.
“Iya... apa ini perintah Ochi?” tanya Seiji kembali.
“Bagaimana kau tahu?”
“Terbaca jelas di wajahmu yang nista itu!”
“A-apa kau bilang?! Berani sekali kau mengatai wajahku yang manis ini!! Pasukan, seraaang!!”
Ribuan vampire tersebut mulai menyerbu Hana dan Seiji! Baku hantam pun dimulai!
“Gawat, aku tak tahu mantra apapun, bagaimana kau bisa menangani mereka?!” gumam Hana sambil hanya terus memberikan tinju, tendangan, dan tonjokan pada vampire-vampire yang hampir menangkapnya.
Ia memperhatikan cara Seiji bertarung. Seiji hanya mengayunkan tongkatnya, dan hanya laser berwarna hijau yang terus keluar. Tapi cukup untuk membunuh setengah vampire.
“Dia juga tak mengeluarkan mantra.. baiklah kalau begitu! Hiyaaa!”
Hana pun bertarung dengan cara yang sama seperti Seiji.
*beberapa saat kemudian...*
“Sial... terlalu banyak...” Hana mulai kelelahan.
“ini tak ada habisnya!” Seiji nampak mengelap peluh di wajahnya.
“Bagaimana ini?”
DUAK!
Hana mengobrol sambil terus bertarung dan memberikan pukulan.
“Aku juga tak tahu... aku tak yakin kita bisa menang... sialan, kenapa ayah dan Arie-sama tak ikut membantu?! Dengan mantra yang mereka miliki—
DUAR!
—vampire-vampire ini akan mati dengan mudah!”
“Aku juga tak tahu, Seiji! Yang jelas—
DUAR DUAR
—kita harus terus berusaha!”
Hana melirik ke arah Mizu yang sedang menyeret Fuji ke asrama seperti sekarung beras. Hana sweatdrop dengan sukses.
“Vampire mulai berkurang, kau bisa atasi mereka sendiri kan, Seiji? Aku akan membantu Mizu!” ujar Hana.
“Ya, pergilah!” sahut Seiji tetap bertarung.
Hana pun menghampiri Mizu. “Biar kubantu!”
“Tapi Hana, bagaimana dengan Seiji?” tanya Mizu.
“Dia bisa atasi mereka sendirian... tak masalah!” Hana pun melingkarkan tangan Fuji di lehernya. “Ayo, cepat!”
“B-baik—“
“Hey,nona Hana!jangan pikir kau bisa lolos!! Rossilia!!” Anchi menembakkan ribuan bunga ke arah Hana, Mizu, dan Fuji.
“Gawat!!” Hana terbelalak dan sempat menangkis sedikit mawar itu dengan sihirnya.
Namun, satu mawar tak tertangkis dan akhirnya—
CLEB
—menusuk dada Seiji.
Eh, Seiji?
Ya, tepat sebelum mawar itu mengenai Hana, Seiji menghadangnya, dan mawar itu malah mengenai Seiji!
“S-Seiji...” Hana semakin shock. Ia menatap Anchi dengan geram. “Kau... kurang ajarr!!!”
Hana menembakkan laser birunya pada Anchi dan seluruh pasukannya secara membati-buta.
“Hana, kendalikan dirimu!!” Mizu nampak cemas.
“Hahahaha! Dasar wanita bodoh!”Anchi menembakkan ribuan mawarnya lagi ke arah Hana, dan disertai api yang membakar mawar itu hingga menjadi panas!
PSSHHH PSHH
CLEB!
Sedikit demi sedikit api mengenai kulit Hana, dan satu mawar yang tak berapi, menancap tepat di daerah vitalnya.
“Gah! Sial...” Hana merintih sambil mencabut mawar itu.
“Hahahaha! Itu akibatnya bermain-main denganku!” Anchi tertawa penuh kemenangan. “Racun itu akan terus bertahan hingga besok.. jika tak segera ditolong, kalian mati! Hahaha! Ooh, mungki nona Ochi akan marah karena aku membunuh pangerannya! Tapi tak apa, karena ia memang sepantasnya mati! Hahahaha!”
“Kau...” Mizu angkit dengan bergelinang air mata. “Kau... aku tak tahu siapa kau, dan darimana asalmu... tapi yang jelas, aku tak akan mengampunimu karena kau...”
Mizu memasukkan cincin Fuji di sakunya, dan memakaikan cincin miliknya di jari manisnya.”Karena kau... telah melukai sahabatku.. dan.. ORANG YANG PALING AKU CINTAI!!”
PSYUU~
Mizu mengarahkan cincinnya ke arah Anchi dan pasukannya. “RING!! BLOW UP!!!”
DUAR!!
Seluruh pasukan vampire yang dibawa Anchi lenyap. Tinggalah Anchi yang tersisa akibat ledakan dahsyat itu!
“A-apa?!” Anchi tak percaya dengan apa yang ia lihat!
Mizu akhirnya membuka matanya, dan menyadari bahwa dirinya telah berubah!
Ia berpenampilan tak jauh berbeda dengan Hana, namun jubahnya sedikit lebih pendek, dan kacamatanya hilang. Namun anehnya, penglihatannya tetap normal. Bajunya berwarna ungu tua, dan permata yang menghiasi tongkat hitam panjangnya berwarna ungu muda.
“Jadi... ini kah perubahanku?” Mizu menatap Anchi dengan galak. “Enyah kau sekarang...” ia berjalan mendekati Anchi.
“Tch, kau tak akan menang sekali pun kau telah berubah! Rossilia!!” Anchi kembali menembakkan ratusan mawar beracunnya ke arah Mizu dan Mizu menangkis semuanya dengan sekali ayunan tongkatnya yang mengeluarkan laser berwarna ungu. Hingga akhirnya...
CLEB CLEB CLEB
Mawar-mawar itu berbalik menancap ke arah Anchi! “Agggh!” Anchi merintih kesakitan.
“Mizu mengatur nafasnya danmenembakkan laser tongkatnya dengan mantap ke arah Anchi. “Ini adalah.. pembalasan untukmu... karena telah menyakiti orang-orang yang kusayangi!!”
Mizu mengayunkan tongkatnya. “HIYAAAAH!!”
Dan laser yang luar biasa besar datang menghampiri Anchi!
“Gaaah! Sinarnya... sinarnya menyakitkan!! Gaaah!!!”
PSHHH...
Anchi berhasil lolos sebelum laser mengenainya. “Sial, dia lolos...” Mizu mengatur nafasnya, dan menghampiri ketiga orang yang ia sayangi.
“Seiji! Hana! Fuji! Sadarlah!”
Mizu mencoba mengatur nafasnya lagi. Ia menggoyangkan tongkatnya pelan ke arah tiga ornag yang tengah terkapar tak berdaya ini.
Cahaya dan butiran berwarna ungu mengelilingi Hana, Seiji, dan Fuji.
Perlahan, mereka bertiga pun membuka mata mereka.
“Ngggh... apa yang terjadi?” Seiji memegang kepalanya. Pusing.
“Dimana aku?” Hana juga terbangun perlahan.
Fuji membuka matanya pelan.
“Eh? Vampirenya? Kemana?” Hana nampak bingung.
“Hana...lihat Mizu..” Seiji menunjuk ke arah Mizu.
“Mizu... kau berubah!! Kau telah percaya pada kekuatanmu!!” Hana memeluk Mizu dengan erat.
“Hahaha, i-iya... kurasa begitu...” Mizu memeluk Hana kembali.
“Apa yang mendorongmu untuk mengucapkan kaimat ring blow up?” tanya Seiji.
Pelukan pun dihentikan.
“Entahlah...” Mizu berpikir. “Mungkin karena aku merasa, aku harus melindungi kalian bertiga.. orang-orang yang kusayangi.. maka dari itu, aku terdorong untuk mengucapkannya...” Mizu tersenyum kecil dan menatap Fuji.
Fuji menatap Mizu dengan heran.
“Mizu... kau...” Fuji nampak tak percaya.
Mizu menunduk menahan malu. sepertinya Fuji tak akan menyukainya lagi, dan semakin menganggapnya aneh. Setidaknya itu yang Mizu pikirkan.
“Kau cantik...” gumam Fuji yang sukses membuat Mizu memerah.
“A-apa katamu?!” Mizu merasa tak percaya.
“Kau cantik...” Fuji mengulang.
Wajah Mizu semakin memerah.
“Hmm, sebaiknya kita pergi Seiji...” Hana mengedipkan matanya ke arah Seiji sebagai kode.
“Hm? Kau mulai genit ya? Berani mengedip-ngedip begitu?” Seiji memasang wajah polos.
“Bodoh!! kita biarkan mereka berduaan!”
“Hoo, kukira kau mulai genit...”
“Dasar pervert!! Aku tidak mungkin jadi genit mendadak!”
“Siapa tahu saja... mungkin kau jadi genit setelah kena racun itu!”
“Mana mungkin ada yang seperti itu?!”
DUAK
Jitakan keras mendarat di kepala Seiji danmembuat tiga gundukan bola di kepalanya.
“Sakit Hana...” Seiji memasang wajah memelas.
“Diam kau, dasar pervert!”
“Hahahaha!” Mizu tertawa lepas. “Kalian lucu sekali...”
Mizu menatap Fuji, dan membiarkan Seiji dan Hana berkelahi.
“Terima kasih...” Fuji tiba-tiba berkata.
“Eh?” Mizu heran.
“Kalau tidak ada kau, mungkin aku sudah tamat..”
“Tak apa, sudah tugasku...”
“Mizu..”
“Iya, Fuji?”
GREP
Fuji memeluk Mizu dengan erat. Hana dan Seiji otomatis memperhatikan.
“Aku menyukaimu, Mizu...”
BLUSHED!
Wajah Mizu semerah tomat sekarang.
“F-Fuji...” Mizu memeluk Fuji kembali. “Aku juga... menyukaimu....”
CUP
Fuji mencium bibir Mizu dengan lembut.
“Terima kasih...” Fuji tersenyum setelah ciuman dilepaskan.
Wajah Mizu entah sudah semerah apa sekarang. Jantungnya berdegup kencang.
“Akhirya, cinta tersampaikan! Hohoho!” celetuk Hana.
“Ha-Hana, apa-apaan sih kau!” Mizu nampak malu-malu.
GREP
“Eh?” Hana kaget ketika Seiji merangkul bahu Hana.
“Bagaimana dengan cintamu, hana? Apakah sudah tersampaikan padaku?” Seiji memasang tampang cool.
DUAK!
Tonjokan keras mendarat di pipi Seiji dari Hana.
“Jangan berpikir macam-macam, pervert!!”
“Sakiit..” tampang memelas andalannya ia keluarkan.
“Sudah kubilang jangan pasang tampang seperti itu!!”
Fuji dan Mizu tertawa bersama melihat tingkah kedua orang itu.
~*TO BE CONTINUED*~
.
Keep Spirit Up!
Hana-chan

0 komentar:

Posting Komentar