K-On Ritsu Tainaka

Welcome

Semoga semua informasi yang saya berikan, bisa bermanfaat untuk kita bersama...

Ganbatte ne~

New Name, New Tactics!

Jumat, 02 Maret 2012

moshi-moshi,  Hana kali ini mempublish beberapa episode cerita yang didedikasikan untuk sebuah grup di facebook, yaitu Anime World School.
Pemeran-pemeran yang terdapat dalam kisah ini, adalah nick name dari para anggota grup. Dan cerita ini dibuat oleh saya, dengan nick name 'Hana' disini.
Termasuk kisah dan alurnya, semua request dari para anggota grup. Dan apabila kisah ini akan anda pakai, harap cantumkan situs ini. Terima kasih, dan selamat membaca..
.
~*Hana-chan Proudly Presents*~
~* A Random Anime Fanfiction*~
~*New Name, New Tactics! By Hana-chan*~
~*Rated: T semi M <gore and slight lemon!>*~
~*Genre(s): Adventure, Drama, Fantasy, Friendship, Humor, (slight) Horror, Hurt/Comfort, Mystery, Parody, Romance, Spiritual, Supernatural, Tragedy*~
~*warning! Gaje, abal-abal, typo bertebaran layaknya bintang di langit (?), isinya campur-campur kaya gado-gado (?), OOC sangat, OC, slight yaoi and yuri*~
.
~café AWS~pkl. 11.30~
Hana tengah mencatat pesanan setiap pelanggan. Sedangkan Seiji tengah memasakkan makanan yang telah dipesan.
Ya, mereka berdua memutuskan mengambil kerja sambilan disini untuk memenuhi uang jajan dan mengisi waktu liburan. Seiji sebenarnya bisa saja tinggal meminta pada ayahnya, tapi ia ingin belajar mandiri. Tidak salah bukan? Dan satu-satu nya alasan ia mengambil cafe AWS untuk dijadikan tempat kerja adalah karena ia bisa bersama Hana terus menerus.
Seiji bertugas sebagai koki part time, sedangkan Hana sebagai pelayan disini. Mengingat Hana sadar diri tidak begitu pandai memasak, tapi paling tidak ia sanggup berkomunikasi dengan baik bersama pelanggan.
Hana kembali ke dapur dan menuju ke ruang loker untuk mengganti pakaiannya dan bergegas kembali ke asrama. Begitu pula Seiji, karena tugasnya telah selesai.
*kemudian...*
~gerbang masuk AWS~
“Hah.. melelahkan.. kalau bukan untuk uang saku, aku tak akan pernah mau melakukannya...” gumam Hana sambil merapikan rambutnya.
“Kau tak perlu merapikan rambutmu...”
“He? Apa maskudmu, Seiji?”
“Kau tak perlu repot-repot merapikan rambutmu... kau sudah cantik tanpa harus melakukannya..”
BLUSHED
“G-gombal..”
“Ayo cepat, kita ke kantin.. aku lapar...”
“Huh, dasar gila!”
Mereka berdua pun pergi menuju ke kantin AWS yang tumben sekali penuh pada hari itu.
*di kantin...*
Hana dan Seiji tengah asyik menikmati makanan mereka masing-masing. Hingga di situasi yang begitu hening tersebut, Hana membuka percakapan.
“Err, Seiji...”
“Ng?”
“Ada yang ingin kutanyakan...”
“Soal apa?”
“Soal.. kekuatan sihir kita...”
“Hm? Memangnya kenapa?”
“Saat pertama kali aku melihat Seta-sama dan Arie-sama menggunakan sihir, aku mulai berpikir.. kenapa agen penyihir rahasia seperti kita yang masih katakanlah junior, tidak bisa mendapatkan elemen seperti Seta-sama dan Arie-sama... apakah karena mereka sudah sangat berpengalaman? Tapi kalau berpengalaman, seharusnya kau juga sudah punya elemen, tapi kenapa sampai sekarang kau sendiri juga tak punya elemen?”
“....”
“He? Kenapa?”
“Aku....”
“Hm?”
“Aku,... tidak mengerti apa yang kau katakan..”
GUBRAK
Hana terjatuh sambil sweatdrop dengan tidak elitnya.
“Y-ya, intinya aku menanyakan, bagaimana caranya kita bisa mendapatkan elemen seperti Arie-sama dan Seta-sama?” ujar Hana sambil beranjak bangun dan memegangi kepalanya yang terbentur ke lantai.
“Sebenarnya, kita bisa saja memiliki elemen seperti itu, tapi itu tidak mudah, perlu latihan yang ekstra berat...”
“Berapa lama Arie-sama dan ayahmu berlatih?”
“5 Tahun...”
“HAH?!?”
“Tak usah terkejut begitu...”
“K-k-kau yakin?”
“Mereka sendiri yang menceritakannya padaku...”
“Pantas saja kita belum diperbolehkan untuk berlatih elemen-elemen itu... sayang sekali yah...”
“Tapi, tak ada salahnya kalau kita coba kan?”
“M-maksudmu?!”
“Kita ajak yang lain untuk ikut pelatihan elemen ini!”
“Ide bagus!”
*skip time...*
~di markas~
Hana, Seiji, dan anggota penyihir yang lain datang atas keinginan mereka untuk mempelajari soal elemen.
“Jadi... apa kalian sudah mendiskusikannya bersama?” tanya Seta sambil duduk di kursi panasnya.
Semua agen penyihir itu mengangguk.
“Yak, seperti yang sudah kita ketahui. Ada  dua diantara kita semua yang sudah memiliki elemennya secara tidak langsung...” ucap Seta sambil melirik ke arah Puti dan Hiruma.
“A-aku?” tanya Puti.
“Kekeke, sudah kuduga aku memang tak terkalahkan..” ucap Hiruma dan tak lupa dengan kekehan setannya.
“Yah, kalian memang katakanlah sudah berada satu level diatas yang lain.. dan dengan begini, aku bisa mempermudah proses latihan untuk mengetahui apa elemen yang ada pada agen penyihir yang lain... nah, kurasa untuk Puti dan Hiruma, kalian bisa mempelajari dulu seluk beluk elemen yang kalian miliki pada Arie... dan bagi kalian yang belum memiliki elemen apapun, aku yang akan membimbing kalian...”
Semuanya mengangguk mantap.
“Baiklah, latihan kita mulai.. ayo, ikut aku..” ujar Arie sambil menuntun jalan Hiruma dan Puti menuju ke suatu tempat.
Seta pun beranjak berdiri dari kursinya, dan membimbing agen penyihir yang lain ke suatu tempat juga.
*lalu...*
~taman AWS~
Arie, Hiruma, dan Puti beranjak ke taman. Tempat ini agak sepi belakangan ini, jadi mereka pikir ini akan menjadi tempat yang bagus untuk melatih kemampuan elemen Puti dan Hiruma. Ditambah lagi, tempat ini luas, jadi sepertinya akan baik-baik saja dan berjalan lancar.
“Nah, kalian sudah siap?” tanya Arie.
Hiruma dan Bazi mengacungkan cincin mereka. “Ring! Blow up!!”
Dan voila! Hiruma juga Bazi sudah berubah menjadi seorang penyihir.
“Nah, karena kalian sudah siap...” Arie mengambil tongkatnya. “Aku akan mengajari kalian teknik untuk mengendalikan elemen dasar kalian ini... dan aku rasa, metode ini akan bisa berjalan lebih cepat daripada jamannya aku dan Seta..”
“Kenapa bisa begitu?” tanya Puti.
“Jelaslah, kecerdasan dan daya tangkap anak-anak jaman sekarang jauh lebih baik dibandingkan orang tua jaman dulu...” jelas Hiruma.
“I-iya.. kurang lebih begitu..” Arie merasa geram, tapi tak apa. Sabar sajaaa...
“Jadi...” Puti kembali meluruskan topik. “Apa yang akan kita lakukan sekarang?”
“Berhubung kalian sudah satu tingkat lebih ahli dalam menggunakan elemen, aku rasa kali ini aku akan mengajarkan cara mengendalikan elemen kalian...”
“Cara...mengendalikan?”
“Iya, benar Puti...”
“Bagaimana? Oh iya, elemenku... apa ya?”
“Sudah kuduga kau tak akan menyadarinya.. elemen mu adalah air...”
“Air?”
*Puti’s flashback..*
“Akan kukirimkan kau, ke alam kedamaian…” Puti tersenyum manis, lalu bersiap mengeluarkan kekuatannya.
Puti loncat ke udara, dan sementara Prem mengucapkan berbagai mantra yang ia hafal dan ia temukan di bukunya.

Puti berputar di udara, dan nampak dari tongkatnya keluar butiran-butiran air berwarna biru jernih. Setelah semakin lama, air tersebut terkumpul menjadi satu, dan Puti mengarahkannya pada bongkahan es batu yang diciptakan oleh Prem sebagai pelindung diinya.

“Dewi air…. Berikan kedamaian… kebersihan… dan kejernihan… bagi mereka yang menyekutuimu!!” ucap Puti yang kemudian butiran air itu berubah menjadi semprotan air raksasa yang menerobos bongkahan es batu itu hingga hancur!

Dan otomatis, air itu menyemprot Prem hingga ia tersungkur jauh, namun seperti biasa, ia berhasil meloloskan diri sebelum benar-benar musnah. Begitu juga Schyte, yang entah sejak kapan sudah pergi meloloskan diri.

*end of Puti’s flashback*

“Hmm, benar juga.. aku memiliki kekuatan air ya...”

“Tepat...”

“Jadi, bagaimana caraku untuk bisa mengendalikan kekuatan air ku?”

“Itu mudah... sekarang, kau lihat air mancur kecil itu?”

“Hu’um... apa yang harus kulakukan?”

“Kau harus masukan air itu ke dalam tongkat sihirmu...”

“Hah?! Bagaimana caranya?!”

“Nah, disinilah tahap tersulit.. aku tidak akan memberitahumu, karena kau harus mencari jawabannya sendiri.. karena itu mempengaruhi kekuatan air itu sendiri, dan juga emosimu...”

Puti sweatdrop dengan sukses. “Aku bingung...”

“Dan kau, Hiruma... elemenmu adalah api... kenapa api? Karena kulihat, elemen itu tumbuh dari dulu bahkan sebelum kau menjadi agen penyihir rahasia...” Arie sweatdrop sendiri mengatakannya.

“Terima kasih, itu pujian yang sangat indah...” Hiruma menyeringai dengan seram.

“Nah, dan caramu mengontrol adalah...” Arie menyalakan bensin, dan melemparnya ke tumpukan kayu bakar yang entah kapan sudah tersedia. “Kau harus masukan api itu ke dalam tongkatmu.. entah bagaimana caranya, itu terserah padamu...”

“Sudah kuduga akan berakhir seperti ini...”
“Nah, berusahalah...”
Arie hanya cengar cengir sambil memperhatikan Hiruma dan Puti yang kebingungan.
*sementara itu...*
~atap sekolah~
Seta membawa agen penyihir yang lain menuju ke atas atap. Ya, atap sekolah AWS kan sangat luas, dan jarang orang datang kemari. Jadi, ini adalah tempat yang cocok.
“Nah, kalian siap?” tanya Seta.
Semua mengangguk.
“Aku akan mencari tahu jenis elemen apa yang mungkin kalian miliki? Sepertinya, akan memakan waktu kurang lebih tiga bulan, mengingat tingkat kecerdasan sudah jauh berbeda...”
“Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Hana.
“Berubahlah....”
Semua mengacungkan cincinnya dan meneriakkan, “Ring! Blow up!”
Voila! Agen penyihir rahasia sudah siap!
“Apa yang harus kami lakukan sekarang?” tanya Inglid.
“Begini...” Seta mengeluarkan setumpuk kartu yang terlihat seperti kartu tarot. “Aku memiliki beberapa buah kartu.. masing-masing kartu ini memiliki elemen yang berbeda.. nah, tugas kalian adalah, mengambil kartu yang sesuai dengan emosi, jiwa, pikiran, dan karakteristik kalian...”
“Bagaimana kami bisa tahu soal itu? Kami kan tidak tahu elemen apa yang cocok dengan sifat kami...” pikir Mizu.
“Itulah gunanya senjata yang kalian pegang saat ini...” ucap Seta.
Seiji memperhatikan tongkat miliknya. “Hmm, aku rasa aku tahu apa yang kau maksud...”
Seiji mendekat ke arah Seta yang tengah memegang tumpukan kartu tersebut, hingga akhirnya ia berdiri tepat didepan ayahnya itu. Seiji menghela nafas perlahan, lalu ia mengarahkan tongkatnya pada tumpukan kartu tersebut. Ia menutup matanya perlahan, dan mencoba merasakan sesuatu.
...
...
...
Hening...
...
...
...
Hingga...
...
...
...
CRIIIIIIING
Cahaya hijau yang begitu menyilaukan bersinar diantara tongkat dan tumpukan kartu tersebut. Seiji membuka matanya. Dan dengan posisi masih mengarahkan tongkatnya, ia perlahan mengambil sebuah kartu yang memiliki sinar hijau juga. Dan saat ia membalikkan kartunya...
“Daun?” Seiji sweatdrop.
“Oh, elemenmu tumbuhan ternyata...” ujar Seta sambil tersenyum dan kembali mengcocok kartunya.
“Ah, tidak bagus sama sekali...”
“Bukan masalah bagus tidaknya, tapi karena memang seperti itulah sifatmu...”
“Sifatku seperti tumbuhan?”
“Iya... tumbuhan merupakan jantung bagi bumi.. tumbuhan berperan penting dalam kehidupan seluruh makhluk hidup.. mereka terus tumbuh, dan mereka selalu menjadi sumber penyelamat bagi makhluk hidup... begitu juga kau. Kau merupakan anggota yang penting diantara kelompok teman-temanmu ini... peranmu sangat penting dalam agen penyihir rahasia kita, dan kau terus tumbuh cerdas.. kau juga selalu menjadi sumber penyelamat...”
Seiji tercengang. Sebagus itukah dia? Dia sendiri bahkan tak pernah menyadarinya.
“Nah, siapa lagi yang mau mencoba?” tawar Seta.
“Aku!” Hana mengarahkan tongkatnya, dan memejamkan matanya perlahan.
Mencoba merasakan sesuatu...
...
...
...
Hening....
...
...
...
Hingga...
...
...
...
CRIIING
Cahaya berwarna biru muda muncul. Hana mencoba mengambil kartu yang memiliki kilauan warna yang sama. Ia membalikkan kartunya, dan ternyata...
“Es?” Hana heran. Ia sempat berpikir, mungkin karena sifatnya yang sedingin es makanya ia mendapat kartu itu.
“Es ya? Wah... cocok sekali...” Seta seolah menahan tawanya.
“Huh, memangnya apa arti dari es itu?”
“Es biasanya melambangkan seseorang yang rapuh... ia selalu membutuhkan pendingin untuk tetap menjaganya beku... begitu juga kau... kau selalu membutuhkan orang lain agar selalu bisa menjagamu... tapi, es juga tidak buruk... ketika sebuah bongkahan es muncul, ia bisa menjadi kategori air terkuat. Namun biasanya, itu jarang terjadi, dan ia seringkali menyembunyikan kekuatannya itu.. begitu juga kau.. kau punya kekuatan tersembunyi, yang tidak orang lain ketahui...”
“Begitu ya...”
Hana bergumam dalam hatinya, ‘Serapuh itukah aku?’
PUK
Seiji menepuk kepala Hana.
“Eh?” Hana sempat tersontak kaget.
“Kau kuat, seperti bongkahan es raksasa...” Seiji tersenyum dengan senyum pepsodentnya.
“Jangan suka membaca pikiran orang lain...” Hana memalingkan wajahnya sambil menahan blushing.
Seta tersenyum melihat tingkah Seiji dan Hana, lalu kembali pada topik. “Ada yang mau mencoba lagi?”
“Aku!” Mizu maju dan mengarahkan tongkatnya.
Perlahan....
...
...
...
Hening...
...
...
...
Hingga....
CRIIIIING
Cahaya berwarna ungu dan memiliki aura yang sangat dingin muncul. Mizu mencoba mengambil salah satu kartu yang memiliki warna yang sama.
“S-salju?” pikir Mizu. ‘Cahayanya ungu, tapi kenapa yang muncul saju? Kupikir yang muncul malah aurora...’ gumamnya.
“Hmm, salju sifatnya tak jauh beda dengan es.. hanya saja, salju cenderung membawa kebahagiaan bagi setiap orang.. dan itu berarti, kau adalah orang yang menyenangkan, dan bermakna bagi semua teman-temanmu... salju juga merupakan fenomena legendaris, karena terjadi hanya setahun sekali... jadi, itu berarti, kau juga memiliki suatu kekuatan legendaris, yang hanya akan muncul disaat tertentu saja...”
“Whoa.... kereeeen!”
Mizu nampak cerah ceria.
“Ada lagi?” tanya Seta.
Fuji beranjak maju tanpa mengatakan apa-apa. Dan ia langsung mengarahkan tongkatnya.
Dan tanpa basa basi lagi, muncul cahaya berwarna hitam pekat, serta angin yang begitu kencang. Namun herannya, kartu-kartu itu tidak terbang.
Fuji mengambil kartunya dengan santai dan tampang yang datar. Ketika ia membalikkan kartunya...
“Angin?”
WHUSH!
Hembusan angin kencang itu pun berhenti.
“Angin berarti kebebasan... kau merupakan orang yang bebas, dan tak suka dikekang.. angin juga memiliki arti yang sangat penting ditengah panasnya cuaca.. dan itu berarti, kau juga cocok sebagai penengah diantara sebuah perkelahian yang tengah panas-panasnya.. selain itu, angin juga bisa memiliki banyak arti bagi manusia.. bisa membuat sedih, ataupun senang.. jadi, kau harus berhati-hati dalam menlontarkan ucapanmu... apakah itu akan membuat seseorang sedih, atau senang.. atau mungkin marah...”
“Begitu ya.. not bad, though....”
Seta kembali menyodorkan kartunya. “Ayo?”
Inglid maju dan mengarahkan tongkatnya sama seperti yang lain.
Perlahan...
...
...
...
Hening...
...
...
...
Hingga...
CRIIIING
Sebuah cahaya berwarna kuning terang muncul. Inglid mengambil kartunya yang berwarna sama, dan...
“Etto... lambang apa ini?”
“Coba kulihat...” Seta memperhatikan kartu milik Inglid. “Maaf, tapi kau tak memiliki elemen...”
“Apa?!”
“Sifatmu yang netral terhadap segala hal, membuatmu lebih cocok sebagai bidang medis.. alias penyembuh... kekuatanmu lebih cenderung ke arah menyembuhkan luka, dan merubah keadaan sesuai yang kau inginkan dengan tongkat itu... sebetulnya, sifat netral cukup menguntungkan.. jadi, selamatlah jika kau memiliki sifat netral... haha...”
“Hoo... sayang sekali yah, aku tidak punya elemen.. huhu...”
“Jangan sedih, justru penyihir-penyihir jaman dahulu lebih menginginkan sifat netral ini lho.. namun kita semua tahu, kalau manusia itu berbeda-beda... jadi apa boleh buat? Hehe...”
“Iya juga sih.. ah, ya sudahlah, tak apa.. hihi...”
“Nah, berikutnya? Oh, hanya tinggal kau Shujin...” Seta menyodorkan kartunya.
“Hmm....” Shujin mengarahkan tongkatnya kepada tumpukan kartu tersebut. Kilatan cahaya berwarna abu-abu muncul. Tidak hanya itu, tapi juga terdengar sebuah retakan dari salah satu kartu. Tanpa pikir panjang, Shujin langsung mengambil kartu tersebut.
Saat ia membalikkannya...
“Gambarnya abstrak...” gumam Shujin dengan dinginnnya.
Seta sweatdrop dengan sukses. “Itu bukan abstrak, tapi itu runtuhan tanah... elemenmu adalah tanah...”
“Hoo... biar kutebak, pasti elemen tanah itu kuat kan?”
“Ya, tepat sekali lagi.. elemen tanah memiliki kekuatan yang luar biasa kuat.. bahkan bisa dibilang nyaris tak terkalahkan... tanah juga merupakan pijakan bagi seluruh makhluk hidup.. dan itu berarti, sebagai anggota paling tua diantara teman-temanmu, kau akan dijadikan panutan bagi mereka untuk memijakan langkah selanjutnya... baik di kehidupan sehari-hari, maupun dalam misi...”
Hell yeah! Cool!
“Nah, dengan begini, kalian sudah mengetahui elemen masing-masing... jadi kurasa—“
“Ano, Seta-sama...” Fuji memotong kalimat Seta. Seta menoleh.
“Aku... mau bertanya...”
“Silahkan, Fuji...”
“Elemen Puti dan Hiruma... berarti apa?”
“Begini... Puti memiliki elemen air... ia akan sangat berguna sebagai pendingin suasana, dan membawa ketenangan bagi teman-temannya... air dominan bersifat positif, hanya saja ia bisa sangat sensitif...”
‘Benar juga...’ gumam Seiji.
“Sedangkan Hiruma.. ia memiliki elemen api... ia merupakan pribadi yang kuat, tegar, dan ia tentunya juga emosional.. kepribadiannya cenderung tinggi, dan ia selalu ditakuti banyak orang... tapi, api kecil juga bisa menjadi teman yang baik kan? Nah, begitu juga Hiruma.. ada saatnya dimana dia pun bisa menjadi teman yang sangat baik dan berarti untuk kita...”
‘Betul sekali....’ gumam Hana.
“Sekarang, lebih baik kalian istirahat.. memilih elemen seperti ini cukup menguras tenaga kalian.. kalian sebaiknya beristirahat dengan baik, karena besok kita mulai latihan mengendalikan elemen kalian...”
“Baik!” ujar semua anggota.
“Sekarang, bubar!”
Semua agen penyihir kembali ke pakaian semula. Dan mereka pun turun dari atap.
*lalu...*
~kantin AWS~
Semua agen penyihir rahasia mulai menyantap makanan mereka. Begitu juga Hiruma dan Puti yang sudah selesai latihan.
“Aggh, melelahkan...” gerutu Puti sambil mengaduk jus jeruknya.
“Latihan sialan itu benar-benar merepotkan...” ujar Hiruma sambil mengelap senjatanya.
“Memang, seperti apa latihan yang kalian jalani?” tanya Inglid.
“Bayangkan Nglid!” Puti memasang ekspresi lebaynya. “Aku disuruh memasukan air kedalam tongkatku!! Dan kamu tahu pasti kan? Itu hal yang amat sangat mustahil!! Begitu juga Hiruma! Dia disuruh memasukan api kedalam tongkatnya! Bagaimana caranya coba?!”
“Hah? Jadi, kalian disuruh memasukkan elemen kalian ke dalam tongkat kalian sendiri?” Inglid terkejut dengan cantiknya.
“Tepat sekali! Bayangkan betapa terkurasnya pikiran kamiii! Ya Tuhaaann..”
“Tapi, menurutku pasti ada suatu teknik tertentu yang bisa kita lakukan…” Hiruma nampak serius berpikir.
“Ya, lagipula kita kan agen penyihir rahasia, jadi kita pasti bisa! Hehehe…” ujar Mizu dengan riang dan bangga.
“Oh iya, ngomong-ngomong soal agen penyihir, aku sempat memikirkan sebuah nama untuk geng kita ini…” pikir Seiji dengan seulas senyum.
“Ah, benar juga!” Hana nampak setuju. “Aku bosan kalau kita hanya disebut sebagai agen penyihir rahasia… kita harus pikirkan nama yang cocok untuk geng kita ini! Hahaha…”
“Hmm, nama untuk geng ya? Kira-kira apa ya…” Fuji nampak berpikir dengan tampannya. Mizu saja sampai terpesona.
“Namanya tentu harus yang keren…” Shujin juga nampak ikut berpikir.
“Hmmm…” semua nampak hening dalam pikiran masing-masing.
Saking lamanya, author pun mulai bete.
Hingga…
CRING!
Muncul lampu bohlam 5 watt diatas kapala mereka semua.
Dan dengan suara lantang, mereka semua mengucapkan nama yang sama, yaitu, “HIMITSU!”
“He?” semua tercengang. Tak menyangka bisa mengucapkan kata yang sama. Mereka pun tertawa lepas berkat kejadian tadi.
Indahnya sebuah persahabatan…
*skip time….*
~sore harinya~gerbang AWS~
Hana, Seiji, dan Seta tengah berbincang di depan gerbang AWS.
“Apa kalian yakin ingin memiliki elemen, dan mempelajarinya lebih lanjut?” tanya Seta. Mungkin memastikan yang tadi siang.
“Iya, aku merasa harus melakukannya…” pikir Hana.
“Ini kan untuk melindungi AWS juga…” sahut Seiji dengan tampang seriusnya.
“Yah, seiring berjalannya waktu, pasti kalian juga akan bisa menguasainya…”
*sementara itu….*
Sebuah bola kristal digenggam oleh sepasang jari-jari lentik milik ratu vampire terkuat di dunia, Kaori.
Ia memperhatikan Seiji, Hana, dan Seta yang tengah berbincang.
Seringai pun tak lupa ia keluarkan.
“Jadi…apa yang akan kau lakukan kali ini.. ‘Kouji-kun’? Fufufu…”
~*TO BE CONTINUED*~
.
Keep Spirit Up!
Hana-chan

0 komentar:

Posting Komentar