K-On Ritsu Tainaka

Welcome

Semoga semua informasi yang saya berikan, bisa bermanfaat untuk kita bersama...

Ganbatte ne~

The Flowers Are Growing Up

Sabtu, 03 Maret 2012

moshi-moshi, Hana kali ini mempublish beberapa episode cerita yang didedikasikan untuk sebuah grup di facebook, yaitu Anime World School.
Pemeran-pemeran yang terdapat dalam kisah ini, adalah nick name dari para anggota grup. Dan cerita ini dibuat oleh saya, dengan nick name 'Hana' disini.
Termasuk kisah dan alurnya, semua request dari para anggota grup. Dan apabila kisah ini akan anda pakai, harap cantumkan situs ini. Terima kasih, dan selamat membaca..
.

~*Hana-chan Proudly Presents*~
~* A Random Anime Fanfiction*~
~*The Flowers Are Growing Up! By Hana-chan*~
~*Rated: T semi M <gore and slight lemon!>*~
~*Genre(s): Adventure, Drama, Fantasy, Friendship, Humor, (slight) Horror, Hurt/Comfort, Mystery, Parody, Romance, Spiritual, Supernatural, Tragedy*~
~*warning! Gaje, abal-abal, typo bertebaran layaknya bintang di langit (?), isinya campur-campur kaya gado-gado (?), OOC sangat, OC, slight yaoi and yuri*~
.
~pagi hari~pkl. 05.00~kamar Seiji~
-Seiji’s POV-
“Hoaaammm..” Aku terbangun di pagi buta, tepat jam lima. Ya, aku sudah menjadwalkan alarm ku untuk membangunkanku tepat pagi ini. Hari ini ada latihan pengontrolan elemen, jadi kurasa sebaiknya aku bergegas meskipun latihannya baru dimulai jam tujuh nanti.
KREK
Kunyalakan shower dan menyetel suhu air menjadi hangat. Pagi hari lebih baik mandi air hangat saja. Kubuka seluruh pakaianku, sehingga lekuk otot di badanku terlihat jelas. Ah, terkadang aku merasa senang menjadi pria idaman wanita. Memiliki tubuh dan otak yang sempurna sehingga dikagumi para kaum hawa. Tapi, tetap saja. Yang kupilih hanya satu…
Dia…
*skip time nyooo….*
Aku berjalan perlahan ke taman AWS. Mencoba mencari tempat yang pas untuk melatih pengontrolan elemenku ini. Dan kutemukan tempat yang pas. Tempat kenanganku saat pertama kali merasakan rasa ini padanya. Pohon rindang di tengah taman yang memiliki bangku panjang putih di bawahnya. Ah, indah sekali. Apalagi jika sudah musim semi. Bunga sakura yang bermekaran di pohon itu benar-benar cantik.
Yosh, daripada berbasa basi lagi, sekarang kita coba berlatih sendiri dulu sebelum yang lain datang.
Aku mengambil sepucuk daun dan tak lama kemudian, kuacungkan cincinku dan berteriak, “Ring! Blow up!”
CRING
Yak, aku sudah sukses berubah. Sekarang adalah, bagaimana caranya aku bisa memasukkan daun ini ke dalam tongkatku.
Hmm, bagaimana caranya ya? Apakah jangan-jangan, ada semacam lubang rahasia yang tertera di tongkat ini?
Dimana, dimana, dimanaaa… *kenapa jadi ayu ting ting?*
“Seiji?”
“Eh?”
Aku menoleh.
Seorang wanita cantik dengan mata kuning emas dan rambut sebahu menghampiriku.
Ah, dia rupanya…
“Pagi, Hana…” sapaku dengan seulas senyum.
“Pagi, Seiji…”sapanya kembali dengan seulas senyum juga.
Manisnya..
“Ano.. sedang apa kau Seiji?”
“Aku hanya sedang mencoba berlatih mengontrol elemen..” ucapku sambil terus berusaha memasukkan daun ke dalam tongkat dengan bodohnya.
“Haha, rajin sekali kau sudah berlatih pagi buta begini? Hahaha…”
“Tak ada salahnya bukan?”
“Iya sih.. hmm, tapi aku yakin, maksudnya memasukkan elemenmu ke dalam tongkatmu itu bukan benar-benar dengan cara dimasukkan.. pasti ada cara lain…”
“Iya, aku juga berpikir begitu.. tapi tidak ada salahnya jika dicoba bukan?”
“Benar juga sih…”
TING TONG TENG TONG *bunyinya ga banget*
Suara bel informasi terdengar. Ada apa?
“Pengumuman… pengumuman…”
Oh itu suara ayah.
“Hari ini, akan diadakan kerja bakti untuk seluruh warga AWS. Diharapkan tepat pada jam tujuh nanti, seluruh siswa dan siswi telah berkumpul di lapangan. Terima kasih…”
TING TONG TENG TONG
“Hee.. itu berarti, kita tak akan bisa berlatih dong? Ah, sayang sekali…” gerutu Hana sambil memajukan bibirnya pas lima senti.
Lucunya…
“Ya, kerja bakti juga tak ada salahnya kan? Sekali-kali membantu penjaga sekolah tak akan begitu menyakitkan…”
CRING
Aku berdiri dan kembali mengenakan pakaian semulaku.
“S-Seiji…”
“Iya?”
Kenapa dia malu-malu begitu?
“K-kau tidak dingin? Memakai baju tanpa lengan begitu? Lagipula, itukan baju olahraga khusus untuk main basket…”
“Kenapa? Kau sudah biasa melihatku memakai baju ini bukan?”
“Iya… tapi…”
Kutelaah lagi penampilanku.
Apa yang salah denganku?
Hmm…
Oh, ternyata….
Hanya gara-gara aku berkeringat sedikit saja dia blushing? Haha, dasar bodoh…
PUK
Aku menepuk kepalanya pelan.
“Apa aku bau?” tanyaku jahil.
“M-mana kutahu, jarak kita kan tidak dekat, jadi tak tercium—“
GREP
Aku memeluknya erat. Merasakan dekapan hangat dari tubuhnya yang tak terlalu tinggi ini.
Harum. Dia pasti mengunakan sampo spesial hingga aku benar-benar mati dibuatnya.
Ah, hiperbolis sekali…
“S-Seiji…”
“Bagaimana?”
“Bodoh, kau bau…”
“Haha, sudah kuduga…”
Kulepaskan kembali dekapanku, dan beranjak pergi kamar sambil menarik tangannya.
“H-hey, mau dibawa kemana aku?” tanyanya sambil terseret-seret olehku.
“Ke kamarku…” jawabku santai.
JDUAK!
Jitakan keras mendarat tepat di kepalaku. Kupasang wajah memelas andalanku.
“Dasar mesum!! Kalau kau mau ganti baju, ganti saja sendiri!!” dia pun beranjak pergi dengan sungut-sungut.
Aku tersenyum simpul sambil mengelus kepalaku yang benjol. Aw, sakit!
Dia itu memang berbeda dibanding yang lain. Kepolosan dia itu benar-benar unik.
Itulah sebabnya…
Aku menyukainya…
*skip time…*
-Normal POV-
Seluruh murid AWS tengah melakukan kerja bakti.
Ada yang memungut sampah, menyapu, mengepel kelas dan koridor, bahkan yang tidak kerja sekalipun ada.
Contohnya yang ini…
“SHUJIIIN!!”
“Hoaamm…”
Pertengkaran hebat kembali terjadi antara Shujin dan Kagami.
Shujin terlihat sedang bersantai-santai dengan kaleng minuman bekas yang ia pungut. Dan perempatan nampak sudah muncul di kepala Kagami.
“Shujin! Cepat kerja!! Jangan hanya bermalas-malasan!”
“Nanti saja, dasar cerewet!”
“Berani sekali kau mengataiku cerewet! Mau kuberi SP lagi, hah?!”
“Jika kau melakukannya, aku akan punya total dua piramida kertas di kamarku…”
“Kau……”
Ai pun datang menghampiri. “S-sudahlah, Kagami… cukup… kita lanjutkan kerja kita saja…”
“Tch, awas kau! Lain kali, kau benar-benar akan kuberi SP!”
Kagami pun pergi dengan sungut-sungut sambil ditenangkan oleh Ai.
Shujin pun kembali bersantai ria sambil menunjukkan senyum penuh kemenangan.
“Hahaha, dasar ketua OSIS payah…”
Dan sekarang, mari lihat Mizu dan Fuji.
Mereka tampak mesra diujung sana sambil membersihkan taman berdua.
Oh so sweet
Mari lihat Inglid, Puti, dan Hiruma.
“Sudah kubilang, airnya bawa sedikit saja! Giliran tumpah begini aku lagi yang repot mengepelnya kan?!” Puti sama seperti Kagami. Sungut-sungut.
“Tch, itu kan memang sudah urusanmu, ketua basket sialan!”
“Apa katamu?! Seenaknya saja mengataiku!! Mendapatkan gelar ketua umum tim basket itu tak mudah, bodoh!”
“Kau tak perlu mengataiku bodoh, orang sialan yang lebih bodoh dariku! Kekeke…”
“Kau ini… menyebalkan sekaliii!!”
Inglid pusing sendiri melihat pertengkaran kedua temannya ini.
“Aduuh, kalian bisa tidak sih diam? Ayolah, sebaiknya sekarang kita segera selesaikan tugas kita, agar bisa cepat istirahat!” teriak Inglid namun tetap tak didengarkan oleh Puti dan Hiruma.
Dan mari lihat keadaan Hana dan Seiji.
Mereka berdua mendapatkan perintah untuk membersihkan kolam AWS. Kolam renang ini memang jarang dibersihkan, mengingat yang suka berenang saja jarang.
“Kenapa aku harus mendapat tugas membersihkan kolam renang bersamamu?” ujar Hana sweatdrop.
“Sudahlah, ayo cepat kita kerjakan…”
“Baiklah…”
Hana mengambil lap pel, sedangkan Seiji menyedot air kolamnya terlebih dahulu dari suatu tempat entah disebelah mana, yang jelas dekat tempat penyimpanan selang dan lain sebagainya.
Hana asyik mengepel lantai sambil menyanyikan lagu-lagu jepang sedikit-sedikit.
“Arrgh, airnya belum surut juga ya? Lama sekali.. makanya, punya kolam renang jangan besar-besar…” gerutu Hana sambil mengepel dan melihat air kolam yang semakin sedikit dan terus berkurang.
*5 menit kemudian…*
Hana yang tengah asyik mengepel, tak menyadari bahwa selang yang seharusnya menyurutkan air kolam itu, malah tiba-tiba berbalik jadi menambah kembali air kolam tersebut. Dan untuk suatu alasan tertentu, Seiji tidak menyadarinya sama sekali dan masih menunggui selang penyedot air kolam itu.
*10 menit kemudian…*
Hana yang sedari tadi terus mengepel, lama-lama sadar akan satu hal.
“Kenapa tak bersih-bersih? Kenapa becek terus?” ia melihat ke arah kolam, dan ternyata…
“Ya Tuhan! Kenapa ini?! Seijiii! Seijiii!”
Mirror Box!”
CRING CRING CRING CRING
Empat tiang penyangga tinggi menjulang tiba-tiba muncul di empat sudut di sekitar kolam, dan dipersatukan dengan cahaya merah merekah yang dipenuhi sengatan listrik. Dan posisi Hana sekarang, seperti tengah terkurung di dalam kotak listrik raksasa berwarna merah dengan kolam didalamnya yang terus terisi air.
“A-apa yang terjadi?!” Seiji datang menghampiri Hana dan syok dengan apa yang ia lihat. “A-apa ini?!”
“Seijiii! Tolong akuu!” teriak Hana sambil berusaha menjauh dari air yang mulai meluap dari kolam.
Karena kita tahu, air mudah sekali menjadi perantara sengatan listrik. Jadi jika Hana basah terkena air, dan menubruk dinding pembatas, tamatlah riwayatnya.
Hana dan Seiji mengacungkan cincin mereka dan meneriakkan, “Ring! Blow up!”
CRING!
Hana dan Seiji berubah menjadi penyihir.
Seiji menyalakan alarm tanda darurat di sebelahnya yang memang sudah dipasang di seluruh penjuru sekolah. Alarm pun berbunyi, dan semua anggota Himitsu segera bergegas mengevakuasi ribuan murid AWS ke tempat yang lebih aman. Terdengar ribut-ribut di gedung sebelah.
“Sekarang bagaimana…” pikir Seiji sambil berusaha mencarikan jalan keluar untuk Hana. “Sial.. ulah siapa ini… tch, kalau begitu, Hana! Lompatlah seperti biasa untuk melewati pembatas listrik itu! Jika dengan kostum penyihir seperti itu, lompatanmu pasti tinggi!”
“B-baiklah!”
GLEK
Hana meneguk ludahnya pelan, dan bersiap melompat..
“Satu… dua….”
Hana pun melompat tinggi!
“Ti—“
BZZZTT!
BRUK!
“Agh!”
“Hana!”
Hana terpental kembali ke daratan dan tubuhnya terhempas keras ke lantai. Terlihat ada sedikit luka bakar di kakinya, akibat terkena serangan dari pembatas listrik yang seperti kaca itu.
“S-sejak kapan ada pembatas lagi diatas sana?!” pikir Seiji geram.
“Hahahahaha!”
“Suara itu?!”
“Apa kau merindukanku, pangeranku?”
“O-Ochi?!”
Terlihat Ochi melayang-layang disamping kotak listrik yang tengah mengurung Hana itu dengan angkuhnya.
“Yo, lama tak jumpa ya…”
“Kau…. Lepaskan Hana!!”
“Apa katamu? Hah, jangan bermimpi, Seiji! Mana mungkin aku akan melepaskan wanita yang menjadi saingan terberatku untuk mendapatkan dirimu?! Hahaha!”
“Kau kejam! Jika kau memang mencintaiku, bukan berarti kau harus mencelakakan orang lain yang dekat denganku!!”
Seta pun datang menghampiri dan ia terlihat sudah siap dengan tongkatnya.
“Seiji! Ada apa ini—kau lagi….” Seta langsung menyadari ada Ochi yang tengah melayang-layang diatas sana. Seta melirik ke arah kolam yang terbungkus oleh pembatas listrik itu. “Ya Tuhan, Hana!!”
“Yo..” Ochi melambaikan tangannya dengan anggun. “Lama tak jumpa, Seta-sama…”
“Apa lagi yang kau mau kali ini, Ochi? Tak puaskah kau menghancurkan sekolah ini waktu itu?!”
“Yang kuinginkan hanya anak kesayanganmu itu.. asalkan dia ingit ikut denganku, itu sudah cukup… dan masalah AWS, kuserahkan pada orang tuaku saja nanti.. hihihi…”
“Kau ini… dasar biadab!”
“Sudahlah ayah!” Seiji melerai. “Begini saja, ayah hadapi Ochi, aku akan menyelamatkan Hana.. oh iya, bagaimana yang lain?”
“Sedang mengevakuasi… kurasa, sekarang hanya bergantung pada kita berdua saja..”
“Baiklah kalau begitu.. ayo lakukan!”
“Hmph!”
Seiji dan Seta berpencar. Seiji menuju kotak kaca listrik, sedangkan Seta maju menyerang Ochi.
“Tak akan kubiarkan!” Ochi nampak merapal sebuah mantra. “Rythmistis tis psychis kai tou nou , Na eiste drastrioi!”
CRING!
Sempat ada kilatan cahaya yang muncul, namun hilang dalam sekejap di kotak itu. Hana terlihat agak syok dan terduduk lemas. Pandangannya kosong, seperti tidak merasakan apa-apa.
“Ha-Hana?! HANAA!” Seiji berusaha menembus dinding pembatas itu, namun…
BZZT!
“Gah!!”
BRUK!
Ia terpental dan terkena luka bakar.
Sementara Seta mulai bertarung dengan Ochi.
“Kau.. sungguh kejam!!”  ujar Seta sambil merapal mantra-mantra. “Jurus apa yang kau gunakan pada kotak itu?!”
“Bukan jurus yang hebat.. hanya jurus pengendali pikiran.. hahaha… gadis itu akan terus diberikan pikiran-pikiran buruk tentang Seiji, serta jiwanya dikendalikan sedikit demi sedikit agar bisa melupakan Seiji! Tidak menyakitkan bukan? Hahaha…”
“Kau… kurang ajar!!”  Seta mengarahkan tongkatnya tepat pada Ochi. “Lasegunda Istoria!!”
BLEDAR!
Ochi menghindari serangan Seta. “Rasakan ini!”
PSYUU~
BLEDAR!
Ochi menembakkan bola listrik ke arah Seta, namun Seta berhasil menahannya.
Sementara Seiji, ia masih bingung bagaimana caranya menyelamatkan Hana yang tengah kebingungan dan kesulitan di dalam sana.
“Sial… bagaimana ini…” Seiji hanya terus memperhatikan Hana. Mencari celah.
Terlihat Hana mulai bingung. Ia meremas rambutnya kuat-kuat.
“Sial… Hana..” Seiji menggenggam tongkatnya erat. “Bagaimana ini….”
‘Seiji…’ hanya itu yang Seta ucapkan dalam hatinya, sambil terus berusaha melawan Ochi.
Seiji hanya terus berusaha memikirkan jalan keluarnya. Ia tak ingin begitu Hana sadar, Hana malah membecinya. Tapi ia juga tak bisa membuat Hana keluar dari sana..
‘Aku… bodoh…’ gumamnya sambil meremas tongkat miliknya.
‘Aku… payah…’ Seiji mengambil kartu tarot yang ia dapatkan saat pengujian elemen waktu itu bersama ayahnya dan yang lain.
‘Kartu ini…’ Seiji memperhatikan kartu itu sejenak.
‘Apa gunanya aku memiliki elemen ini… apa gunanya aku terus mempertahankan kartu ini…kalau aku tidak bisa menolong Hana!? Aku… aku ingin  lebih kuat.. aku tak lemah.. aku mencintainya, dan aku ingin melindunginyaaaa!’
CRRIIING
Kartu tarot milik Seiji bersinar terang dan melayang tepat di depan Seiji. Dan dengan yakin juga mantap…
“Hana…”
Seiji mengayunkan tongkatnya.
“Aku….”
….
“Menyukaimuuuuu!!”
PRAANG
Seiji menebas kartu itu dengan tongkatnya, sehingga kristal hijau yang terdapat pada tongkatnya bersinar terang.
“Hiyyaaa!!” Seiji pun melompat tinggi ke udara, dan menghempaskan tongkatnya kuat-kuat. Terlihat ribuan daun yang tajam keluar dari tongkatnya dan membelah-belah perlahan empat tiang penyangga yang menjadi sumber menyalanya kotak kaca itu.
Dan terlihat, air kolam sudah memenuhi kotak kaca raksasa itu, dan menenggelamkan Hana di dalamnya. Hana yang telah kehabisan oksigen, pingsan saat mengapung di dalam air.
*sementara itu…*
-Hana’s POV-
Aku dimana? Tempat apa ini? Disini gelap.. tak ada siapa-siapa…
Seiji? Seta-sama? Arie-sama? Inglid? Mizu? Hiruma? Teman-teman? Kalian dimana?!
Aku dimana?! Dengan siapa aku disini?! Apa yang aku lakukan disini?!
“Siapa itu Seiji?”
“Eh?!”
Suara apa itu?!
“Dia hanyalah seorang pria mesum yang mencari perhatian!”
“Tidak.. itu tidak benar!! Seiji tidak seperti itu!!”
“Lagipula apa bagusnya dia? Dia hanya bermodalkan tampang saja, selebihnya? Tch, dia tidak ada apa-apanya…”
“Hentikaaan! Seiji.. Seiji tidak begitu!! Dia.. dia…”
“Hanya karena dia anak kepala sekolah dan anak dari seorang penyihir yang kuat, apakah kau harus selalu tunduk padanya? Tch, jangan mau kau!”
“Diaaam!!”
“Dia itu hanya seorang pecundang yang tidak bisa apa-apa!!”
“Hentikaan! Kumohon hentikaaan!”
“Seiji? Siapa dia? LUPAKAN SAJA!!”
“DIAAAAM!!”
-Normal POV-
PRANG!
Empat tiang penyangga telah hancur oleh daun-daun milik Seiji. Otomatis, dinding listrik dari kaca yang membentuk kubus itu langsung pecah!
BYURR!!!
Air yang deras gara-gara tadi memenuhi kotak kaca itu, langsung berhamburan kemana-mana. Seiji langsung mengayunkan tongkatnya, dan muncullah akar panjang yang melilit tubuh Hana. Seiji pun menarik Hana ke dalam dekapannya dan membawanya ke tempat yang aman.
Seta melompat tinggi mengikuti Seiji agar lolos dari tamparan air yang deras. Sedangkan Ochi, karena tidak sempat menghindar, ia terseret air yang sangat banyak itu.
“Aaah! Toloong!!” Ochi berusaha terbang melepaskan diri dari air tersebut. Namun satu ide muncul di kepalas Seta. Ia berpikir, inilah saatnya.
“Sekarang lah waktunya…” Seta merapalkan mantra. “Pyles tou thanatou!”
CRIIING
Sebuah portal muncul tepat di belakang Ochi, dan menyedot semua air yang meluap.
“Aaaah! Tidaaak!!” Ochi pun menghilang—meloloskan diri—.
“Ah, sial! Dia lolos! Padahal sedikit lagi!” gerutu Seta lalu memberhentikan mantranya.
Terlihat situasi kolam sangat becek. Bahkan atap sekolah dan kaca ruang guru basah akibat air yang meluap dengan dahsyat tadi.
“Ah, harus merenovasi lagi kalau begini caranya…”
Lalu, Seta melihat kondisi Hana dan Seiji.
“Hana! Hana bangun Hana! Kumohon, bangunlah!!” Seiji terus memeluk Hana dalam dekapannya dengan erat. “Hana… ini salahku…”
“Ini bukan salahmu..” ujar Seta.
“Aku.. aku tidak berguna…”
“Jangan bilang begitu… buktinya kau sudah menguasai elemnmu dengan baik..”
“Diam kau!! Apa gunanya memiliki elemen seperti ini, jika orang kusayangi justru tetap tidak terselamatkan!!”
“Seiji…”
“Aku… aku tak berguna…”
TAP TAP TAP
Agen Himitsu yang lain menghampiri Seta, Seiji, dan Hana.
“Apa yang terjadi?” tanya Arie dengan nafas terengah-engah.
Seta hanya menggeleng pelan.
Arie terbelalak lalu melihat Hana yang memejamkan mata tak sadarkan diri dalam dekapan Seiji.
“Hana… tidak mungkin…” gumam Mizu. Mizu pun perlahan menitikan air matanya. Fuji berinisiatif memeluknya.
“Sulit dipercaya… tidak mungkin kan?” tanya Inglid pada Hiruma dan Shujin. Namun yang ditanya hanya diam dengan wajah muram. Inglid pun perlahan meneteskan air matanya. “Hana….”
“Tidak! Mungkin belum terlambat!” ujar Puti mantap, lalu memeriksa denyut nadi Hana.
….
….
“Masih!! Masih berdetak pelan!! Kita masih ada harapan!!” Puti mengacungkan cincinnya dan meneriakkan, “Ring! Blow up!”
CRING!
Puti pun berubah menjadi penyihir. Ia meletakkan tangannya di depan dada, dan berkata, “Dewi air… aku mohon bantuanmu… berikan hidup.. dan berikan nyawamu… berikanlah gadis ini kesempatan… berikan dia cahayamu, kilauanmu, untuk hidupnya…”
Lalu tangan Puti pun seakan masuk ke dalam sebuah gelembung, dan ia menggenggam tangan gelembungnya itu dengan tangan Hana. Puti memejamkan matanya perlahan, seolah sedang mentransferkan sebuah energi.
Badan Hana pun bercahaya, dan seiring dengan meredupnya cahaya tersebut, ritual transfer energi pun selesai. Dan…
BRUK
Puti yang lemas kelelahan dan hampir jatuh, ditahan oleh Shujin dan Hiruma.
“Terima kasih..” ujar Puti.
“Tak masalah…” ucap Shujin.
“Kau berhutang padaku, ketua basket sialan..” sahut Hiruma dan tak lupa dengan seringai dan kekehannya.
Lalu…
“Nggh….” Hana membuka matanya perlahan.
Syukurlah, dia sadar!
Semua tersenyum penuh syukur melihat Hana kembali seperti semula.
Hana yang baru saja terbangun bingung dengan apa yang terjadi. “Eh? Kalian kenapa?”
GREP
“S-Seiji?!” Hana tersontak kaget saat Seiji tiba-tiba memeluknya dengan erat.
“Aku tak akan… meninggalkanmu lagi..”
BLUSHED
Wajah Hana sontak memerah.
“Seiji… lepaskan…”
“Tidak akan…”
“Malu dilihat yang lain…”
“Aku tak malu….”
“Bodoh…”
“Aku memang bodoh…”
“Lepaskan!”
“Tidak mau…”
JDUAK
Hana sempat menjitak Seiji, namun respon Seiji berbeda kali ini. Ia tetap memeluk Hana dengan kuat.
“Seiji bodoh…” Hana tersenyum kecil dan kembali memeluk Seiji.
“Itulah aku dimatamu…” Seiji pun tersenyum dengan respon Hana.
Seta dan yang lainnya pun nampak ikut senang.
“Nah, Arie, kurasa sudah waktunya kita renovasi ulang sekolah…” ujar Seta.
“Benarkah? Ah, sepertinya semakin parah saja…” pikir Arie.
“Lawan kita semakin bertambah kuat.. kita tak boleh lengah..”
“Iya, aku mengerti…”
Maka dengan ini, AWS akan benar-benar menghadapi perang yang sebenarnya.
~*TO BE CONTINUED*~
.
Keep Spirit Up!
Hana-chan

0 komentar:

Posting Komentar